Sabtu, 15 Oktober 2016

DASAR-DASAR FILSAFAT



DASAR DASAR FILSAFAT

Oleh: Drs. Sudadi, M. Hum.

PENDAHULUAN
            Beberapa puluh tahun silam pernah diadakan sidang UNESCO di Paris yang membicarakan salah satunya untuk mencapai dan memelihara saling pengertian, penghargaan, dan kerja sama antar sesama mansusia. Hal ini dapat disimpulkan, bahwa calon sarjana filsafat, sangat perlu mendapatkan pendidikan filsafat. Dengan harapan untuk memperoleh sifat-sifat pribadi berdasarkan kemampuan seorang ahli filsafat, yakni dapat mengamalkan kemampuan yang dimilikinya. Seseorang yang mampu berfilsafat setidak-tidaknya akan memiliki sifat pribadi, seperti:
a.      Susila.
b.      Demokrasi.
c.       Berjiwa nasional.
d.      Jujur sesuai dengan ajaran agamanya.
e.      Memiliki pandangan hidup, tujuan hidup, dan filsafat hidup.
Dengan demikian bagi orang yang telah memperoleh pendidikan filsafat, maka akan memahami bahwa setiap manusia mempuyai filsafatnya sendiri-sendiri, yakni seperti tentang kehidupannya, dan mempunyai pandangan yang spesifik tentang dunia ini bagi masing-masing manusia. Misalnya bagi seorang perwira, ia akan bersikap sesuai dengan tugas dan fungsinya, begitu juga bagi seorang teknokrat, ia akan bersikap juga sesuai dengan keahliannya sebagai ahli teknologi, dan lain sebagainya.

A. PENGANTAR KEPADA FILSAFAT

1. Dua Kekuatan Yang Mewarnai Dunia
            Keadaan dunia yang begini ini ada dua kekuatan yang mewarnainya. Kekuatan yang mewarnai itu yang pertama yakni agama, dan yang kedua yakni filsafat. Manusia yang mewarnai dunia juga hanya dua, yakni ahli agama (Nabi, Resi, ulama, dan para tokoh agama lainnya), dan ahli filsafat (filosof). Apakah sains dan teknologi ikut juga mewarnai dunia ? Tidak. Sains dan teknologi dalam garis besarnya adalah netral. Karena pakar sains dan teknologi menggunakan sains dan teknologi untuk mewarnai dunia dasarnya adalah pandangan hidupnya. Padahal pandangan hidup itu munculnya hanya dari dua hal, yakni agama dan filsafat.
            Kenyataan di atas dapat dilihat, bahwa sejarah telah mempertontonkan adanya manusia yang berani mati untuk dan karena agama yang dianutnya. Banyak orang mengorbankan harta, pikiran, tenaga, atau nyawa sekalipun untuk dan karena kepercayaan yang dianutnya. Malah ada orang yang dibakar hidup-hidup oleh orang yang merasa agama/ kepercayaannya dilecehkan oleh orang tersebut. Orang dengan tekun menabur bunga atau membakar dupa dan sebagainya untuk dan karena kepercayaan terhadap agamanya. Demikian pada kenyataannya.
            Selain kenyataan itu, sejarah juga telah mencatat pula adanya orang kuat, yang kadang kadang juga berani mati, karena meyakini sesuatu yang diperolehnya karena memikirkannya. Yang ini adalah pemikir atau yang biasa disebut filosof. Sesuatu dipikirkan sedalam-dalamnya, kemudian suatu ketika ia sampai pada kesimpulan yang dianggapnya benar. Kemudian kebenarannya ini mempengaruhi tindakannya, sehingga keyakinannya pada kesimpulannya itu lalu membentuk sikapnya. Contoh Socrates sanggup mati dengan cara meminum racun, sebagai hukuman baginya karena mempertahankan kebenaran filsafat yang dianggap benar.
            Keyakinan terhadap kebenaran filsafatnya itu menjadikan filosof merasa wajib menyebarkan pendapatnya, sehingga pada orang yang mengikuti itu terbentuk pula sikap mereka, tindakan mereka dibentuk oleh pandangan filsafat itu, jadi menjadi pandangan hidup mereka. Maka dari itu mereka juga mewarnai dunia.
            Kedua hal di atas, yakni agama dan filsafat adalah dua kekuatan yang mewarnai dunia. Oleg sebab itu, barang siapa hendak memahami dunia, ia harus memahami agama atau filsafat yang mewarnai dunia itu. Dan dua kekuatan besar yang mewarnai dunia itu, orang harus mempelajari kekuatan itu, yakni apa agama itu ? apa filsafat itu ?.
            Tentang agama dalam hal ini tidak akan dibahas secara panjang dan lebar, namun yang pasti bahwa agama berdasarkan berbagai bacaan yang telah dibaca, tentang agama banyak sekali definisinya. Dari sekian banyak definisi itu agaknya dapat dibagi menjadi dua kelompok. Yang pertama, yakni definisi agama yang menekankan segi rasa iman atau kepercayaan, yang kedua, yakni definisi agama yang menekankan segi agama sebagai peraturan tentang cara hidup. Demikian tentang agama, sedangkan tentang filsafat sudah barang tentu dibicarakan secara panjang lebar, karena dalam hal ini adalah berupa materi kuliah tentang dasar-dasar filsafat.

2. Cara Mempelajari Filsafat

Ada dua cara, yaitu:
a.Secara Historis – mempelajari sejarah perkemangannya, yaitu sejak timbulnya filsafat sampai sekarang.
Mempelajari filsafat dalam hal ini adalah mempelajari filsafat dari sejak lahirnya hingga sekarang ini, yakni yang biasa disebut sejarah filsafat itu sendiri. Di samping itu, pengertian filsafat itu sendiri berkembang dari masa ke masa. Untuk lebih jelasnya bahwa pengertian filsafat berkembang dari masa ke masa adalah sebagai berikut.
            Mula mula filsafat diartikan sebagai the love of wisdom atau love for wisdom. Pada fase ini filsafat berarti sifat seseorang yang berusaha menjadi orang yang bijak atau sifat orang yang ingin atau cinta pada kebijaksanaan. Pada fase ini filsafat juga berarti sebagai kerja seseorang yang berusaha menjadi orang yang bijak. Jadi, yang pertama filsafat sebagai sifat, dan yang kedua filsafat sebagai kerja.
            Masih pada fase ini, yaitu pada Aristoteles, misalnya pengertian filsafat sangat umum, luas sekali. Waktu itu segala usaha dalam mencari kebenaran dinamakan filsafat, begitu pula hasil usaha tersebut. Dikatakan luas sekali karena semua pengetahuan, termasuk special science, tercakup dalam filsafat. Sebagai akibat dari pengertian menurut Aristoteles tidak dapat dipahami oleh para penggemar filsafat pada zaman ini karena special science telah memisahkan diri dari filsafat. Pada fase pertama ini wisdom memang luas sekali artinya, sebagaimana dijelaskan dalam Encyclopedia of Philosophy (1967: 216) bahwa Homerus menyebut tukang kayu juga orang yang bijak (Ahmad Tafsir, 2009: 12).
            Perkembangan selanjutnya memperlihatkan bahwa pengertian filsafat mulai menyempit, yakni lebih menekankan pada latihan berpikir untuk memenuhi kesenangan intelektual (intellectual curiosity). Definisi dari Bertrand Russel barang kali dapat digolongkan ke sini tatkala ia mengatakan bahwa Philosophy is the attempt to answer ultimate question critically. Pada fase ini jelas pengertian filsafat jauh lebih sempit dari pada pengertian filsafat pada masa Aristoteles  di atas. Tugas filsafat pada masa ini, menurut definisi Bertrand Russel itu, ialah menjawab pertanyaan yang tinggi (ultimate), yakni pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh sains. Definisi filsafat dari William James berbeda dari definisi Bertrand Russel. William James mengatakan bahwa filsafat ialah kumpulan pertanyaan yang belum pernah terjawab secara memuaskan.
            Dengan demikian pengertian filsafat sering berbeda antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Perbedaan itu disebabkan oleh perbedaan konotasi filsafat, dan terakhir ini dapat disebabkan oleh pengaruh lingkungan dan pandangan hidup yang berbeda serta akibat perkembangan filsafat itu sendiri.

b.Secara Sistematis – mempelajari isinya, yaitu mempelajari bidang bahasan, seperti cabang metafisika, epistemologi, logika, etika, dll. Pada garis besarnya filsafat mempunyai tiga cabang besar, yakni dimensi epistemologis (teori pengetahuan), dimensi ontologism (teori hakekat), dan dimensi aksiologis (teori nilai).
Dimensi epistemologis pada dasarnya membicarakan cara memperoleh pengetahuan. Dimensi ontologism membahas semua objek, dan hasilnya ialah pengetahuan filsafat.
Yang ketiga, yakni dimensi aksiologis adalah membicarakan guna pengetahuan tersebut di atas.

B. ARTI FILSAFAT

a. Arti secara etimologis.
Filsafat(Indonesia) = falsafah(Arab), philosophy (Inggris), philosophia(Latin), philosophie (Jerman, Belanda, Perancis). Semua istilah itu sumbernya = philosophia dari istilah Yunani.
Istilah Yunani asal katanya philein artinya mencintai,
Sedangkan kalau philos artinya teman.
Istilah sophos artinya “bijaksana”, sedangkan sophia artinya “kebijaksanaan”.
Jadi bila mengacu philein dan sophos artinya mencintai hal2 yang bersifat bijaksana,
Namun bila  mengacu pada kata philos dan sophia artinya teman kebijaksanaan.

b. Arti Filsafat Sebagai Suatu Sikap
Filsafat = suatu sikap terhadap kehidupan dan alam semesta.
Bila orang sedang menghadapi problem yang berat, maka dalam hatinya akan bertanya yang membutuhkan jawaban secara kefilsafatan.
Artinya membutuhkan jawaban yang ditinjau secara tenang, luas, dan mendalam.
Misal filsafat prajurit, rawe2 rantas malang2 putung

c. Arti Filsafat Sebagai Suatu Metode
Artinya bahwa filsafat sebagai cara berpikir secara reflektif, radikal, dan suatu penyelidikan yang menggunakan alasan serta berpikir secara hati hati dan teliti.
Jadi filsafat merupakan usaha untuk memikirkan seluruh pengalaman manusia secara mendalam dan jelas.
Misalnya: Metode Kritis oleh Socrates dan Plato.

d. Arti Filsafat Sebagai Sekelompok Teori atau Sistem Pemikiran
Teori atau sistem pemikiran filsafati dimunculkan oleh masing-masing filsuf, seperti Sokrates, Plato, Aristoteles dll.  Adalah untuk menjawab masalah masalah, misalnya tentang prinsip fundamental alam semesta, apa dan siapa manusia, serta masih banyak masalah masalah yang harus dijawab oleh para filsuf yang lain.  Karena tanpa filsuf filsuf besar seperti disebutkan di atas, filsafat tidak akan berkembang seperti sekarang ini.  Perlu diingat bahwa besarnya kadar subjektifitas seorang filsuf dalam manjawab permasalahan, membuat sulit untuk menentukan teori atau sistem pemikiran mana yang harus diikuti dan yang baku.
 
e. Arti Filsafat sbg. analisis logis tentang bahasa & penjelasan makna istilah
Para filsuf memakai metode analisis untuk menjelaskan suatu istilah.  Para filsuf seperti G. E. Moore, Bentrand Russel, Ludwig Wittgenstein, dll. Mengatakan bahwa tujuan filsafat adalah menyingkirkan kekaburan kekaburan dengan cara menjelaskan istilah. Sebab menurutnya bahasa adalah laboratorium para filsuf.  Misal, kata “ada” ini tentang adanya Tuhan dan adanya Manusia berbeda. Begitu juga ada dalam ruang waktu berbeda dengan ada secara transenden, dll.

ULASAN
            Setelah dicoba menjelaskan dari berbagai segi dan bermacam cara, dapat dimengerti bahwa filsafat adalah pengetahuan yang diperoleh dengan cara berpikir logis, tentang objek yang abstrak logis, kebenarannya hanya dipertanggung jawabkan secara logis pula. Jika diringkaskan, maka dapat juga dikatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan yang logis yang tidak dapat dibuktikan secara empiris. Definisi ini memang belum lengkap, belum mencakup seluruh konsep yang terkandung dalam istilah filsafat, namun aganya telah mampu menunjukkan apa itu filsafat secara garis besarnya. Untuk mengetahuan apakah diri pembaca (Anda) telah mengerti apa filsafat, caranya mudah: yakni, Bacalah beberapa makalah, buku, atau apapun namanya, setelah itu Anda akan dapat mengatakan, bahwa makalah ini atau buku ini adalah makalah atau buku filsafat, atau malah mengatakan sebaliknya, yakni bahwa makalah atau buku ini adalah makalah atau buku sains, bukan filsafat dan buku bukan buku filsafat. Dengan demikian bila Anda telah mampu berbuat demikian, maka yakinlah bahwa Anda telah memahami apa filsafat itu.
 

C.      FILSAFAT
 
Apa yang mendorong timbulnya filsafat – Jawaban terhadap pertanyaan ini kiranya akan membantu memahami apa filsafat itu sebenarnya. Dengan membaca ini mudah mudahan pengertian filsafat akan terungkap sedikit demi sedikit.
            Hata dalam bukunya, Alam Pikiran Yunani (1966, 1:1-3), menulis sbb:
“Tiap bangsa betapapun biadabnya, mempunyai dengeng takhayul (mitologi). Ada yang terjadi dari kisah perintang hari, keluar dari mulud orang yang suka bercerita. Ada yang terjadi dari muslihat menakut-nakuti anak supaya ia tidak nakal. Ada pula yang timbul dari keajaiban alam yang menjadi pangkal heran dan takut. Dari itu orang mengira ala mini penuh oleh makhul-makhluk gaib. Lama kelamaan timbul berbagai fantasi. Dengan fantasi itu manusia dapat menyatu ruh dengan alam sekitarnya. Orang yang membuat fantasi itu tidak ingin membuktikan kebenaran fantasinya, karena kesenangan ruhnya terletak pada fantasi itu. Tetapi kemudian ada orang yang ingin mengetahui lebih jauh. Di antaranya ada orang yang tidak percaya, ada yang bersifat kritis, lama kelamaan timbul keinginan pada kebenaran. Orang-orang Grik dahulunya banyak mempunyai dongeng dan takhayul. Tetapi yang ajaib pada mereka ialah bahwa angan-angan yang indah itu menjadi dasar untuk mencari pengetahuan semata-mata untuk tahu saja. Tidak mengharapkan untung dari situ. Berhadapan dengan alam yang indah dan luas, yang sangat bagus dan ajaib pada malam hari, timbul di hati mereka keinginan hendak mengetahui rahasia alam itu. Lalu timbul pertanyaan di dalam hati mereka, dari mana datangnya ala mini, bagaimana terjadinya, bagaimana kemajuannya dank e mana sampainya. Demikianlah selama berates tahun alam ini menjadi pertanyaan yang memikat perhatian ahli-ahli piker Grik.”
            Dari kutipan di atas dapat diambil dua kesimpulan. Pertama, dongeng dan takhayul dapat menimbulkan filsafat. Di antara orang-orang ada yang tidak percaya begitu saja. Ia kritis, ingin mengetahui kebenaran dongeng itu. Dari situ timbul filsafat. Kedua, keindahan alam besar, terutama ketika malam hari, menimbulkan keinginan pada orang Grik untuk mengetahui rahasia alam itu. Keinginan mengetahui rahasia alam, berupa rumusan-rumusan pertanyaan, ini juga menimbulkan filsafat.


1.  Latar belakang timbulnya filsafat

a.Heran, kagum, dan takjub terhadap alam semesta dan peristiwa peristiwanya. 
         Pertama tama bangsa Yunani dalam menghadapi alam semesta beserta peristiwanya itu, yang muncul dari rasa heran, kagum dan takjub adalah percaya adanya mitologi.  Karena mitologi mitologi itu merupakan percobaan untuk mengerti.  Mite mite sudah memberi jawaban atas kekaguman dan keheranan manusia pada waktu itu. Kemudian mereka mulai mengadakan beberapa usaha, seperti mensistematiskan mite, menghubung hubungkan antara mite mite, dll. Akirnya mereka mulai berpikir secara serius dan muncullah filsafat.

b. Timbulnya kesusastraan Yunani.

Kesusastraan dimaksud bukanlah dalam arti sempit, seperti puisi atau sebangsanya, melainkan dalam arti yang seluas luasnya, sehingga dapat meliputi seperti, teka teki, dongeng, ceritera pendek, syair, dll.  Kemudian karya sastra seperti inilah yang mulai dipakai sebagai semacam buku pendidikan untuk rakyat Yunani.  Contoh, yaitu syair syair dapat berperan sebagai  pendidikan, hal ini bisa dibandingkan di Jawa atau Bali seperti wayang dan semacamnya.

c. Pengaruh ilmu pengetahuan yang sudah terdapat di Timur Kuno.

Hal ini dipahami dari datangnya ilmu ukur dan ilmu hitung yang sebagian besar datang dari Mesir. Ilmu ini di Mesir digunakan untuk mengukur dan menghitung wilayahnya yang terkikis sungai Nil. Tetapi bagi bangsa Yunani, ilmu pengetahuan itu tidak dijalankan dalam konteks praktis saja. Mereka mulai mempelajarinya dengan tidak mencari untung (Inggris: disinterestedly) saja, melainkan dipraktekan demi ilmu pengetahuan itu sendiri, bukan demi untung yang letaknya di luar ilmu pengetahuan.

2. Definisi Filsafat

Menurut Plato, bahwa filsafat adalah ilmu pength. yang berminat mencapai kebenaran yang asli.
Menurut Aristoteles, filsafat adalah ilmu pength. Yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.
Menurut Descartes, bahwa filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, alam, dan manusia menjadi pokok penyelidikan.
Menurut Notonagoro, bahwa filsafat mengelola hal-hal yang menjadi objeknya dari sudut intinya yang mutlak dan tindakan yang tidak berobah, yaitu disebut hakekat.
Menurut Everton, bahwa Philosophy is love of learning, Philosohy is an interpretation of live, its value and meaning, Philosophy provides us with a rational view of the world.
Jadi menurut penulis, filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu yang ada dengan mendalam sampai ke hakekatnya.
 
3. Ciri ciri Orang Berfilsafat

a. Universal, artinya dalam berpikir tidak berkaitan dengan hal-hal khusus, melainkan berkaitan dengan idea-idea besar, misal: bukan menanyakan berapa harta anda disedekahkan, namun apa keadilan itu, dsb.
b. Spekulatif, artinya berpikir yang melampaui batas batas bidang pengeth. Ilmiah, berpikir untuk menduga apa yang akan terjadi, dan berpikir terkaan terkaan yang cerdik thdp hal hal di luar pength, kematian, kebahagiaan sempurna, dll
c. Nilai nilai (Inggris: values), artinya berpikir tentang keputusan penilaian, seperti nilai moral, nilai estetis, nilai sosial, nilai religius, dll. Dalam hal ini nilai sifatnya abstrak yang melekat pada suatu hal, sehingga dapat menimbulkan rasa senang atau puas terhadap halnya.
d. Kritis, artinya dalam berpikir mengahadapi sesuatu hal tidak menerima begitu saja, namun memeriksa dan menilai asumsi asumsinya, mengungkapkan arti, dan menentukan batas penerapannya.
e. Sinoptik, artinya meninjau hal yang menjadi objeknya secara menyeluruh, yaitu berusaha mengadakan generalisasi, menganalisa, mensintesakan, dan mengadakan integrasinya. Jadi mencakup setruktur kenyataan secara menyeluruh.
f. Radikal, kata ini berasal dari lata Yunani “radix” artinya akar. Jadi berarti berpikir sampai ke akar akarnya, yaitu berpikir sampai ke hakikat, esensi atau substansi yang dipikirkan.
g. Konseptual,  artinya berpikir sampai ke hasil generalisasi dan abstraksi dari pengalaman tentang hal hal dan proses individual. Misal: berpikir tentang manusia tidak secara khusus, melainkan manusia secara umum, seperti: apa hakekat manusia ?.
h. Koheren dan konsisten, arinya dalam berpikir  sesuai dengan kaidah kaidah berpikir (logis), dan tidak mengandung kontradiksi.
i. Sistematis, , artinya dalam berpikir merupakan kebulatan dari sejumlah unsur yang saling berhubungan untuk mencapai suatu maksud dan tujuannya.
j. Komprehensif, artinya dalam berpikir mencakup secara menyeluruh, sehingga tidak ada satupun yang tertinggal di luarnya.
k. Bebas, artinya bebas dari prasangka prasangka sosial, historis, kultural, religius, dan lain sebagainya.
l. Bertanggung jawab, artinya berpikir yang bertanggung jawab, misalnya: dalam berpikir ada pertanggung jawaban terhadap hati nuraninya sendiri.

4. Pengertian Filsafat
Terkait dengan pengertian filsafat, perlu ditegaskan di sini bahwa dalam garis besarnya filsafat minimal mempunyai tiga dimensi besar, yakni:
1.      dimensi epistemologis
2.      dimensi ontologis
3.      dimensi aksiologis
Inilah keseluruhan filsafat dalam garis besar yang ringkas. Untuk itu agar lebih jelas tentang kapling-kapling filsafat dimaksud adalah sebagai berikut:
1.Dimensi epistemologis, yakni dimensi yang membicarakan bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Runes (1971: 94) dalam kamusnya menjelaskan bahwa epistemology is the branch of philosophy which investigates the origin, structure, methods and validity of knowledge. Itulah sebabnya sehingga sering disebut dengan istilah filsafat pengetahuan, karena ia membicarakan hal pengetahuan. Untuk hal ini ada beberapa aliran yang membicarakan, seperti:
Aliran empirisme, yakni kata yang berasal dari kata Yunani empeirikos yang asal katanya adalah empeiria, artinya pengalaman. Oleh sebab itu, menurut aliran ini bahwa manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. John Locke (1632-1704), bapak aliran ini pada zaman Modern mengemukakan teori tabula rasa yang dalam bahasa Indonesia adalah meja lilin. Maksudnya adalah bahwa manusia pada mulanya kosong dari pengetahuan, kemudian pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, sehingga manusia memiliki pengetahuan.
Aliran Rasionalisme, yakni aliran yang menyatakan bahwa “akal adalah dasar kepastian pengetahuan”. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Menurut aliran ini, bahwa manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap objek. Bapak aliran ini di zaman Modern adalah Rene Descartes (1596-1650), ini benar. Akan tetapi sesungguhnya paham semacam ini sudah ada jauh sebelum itu, yakni orang orang Yunani Kuno telah meyakini juga bahwa akal adalah alat dalam memperoleh pengetahuan yang benar, lebih-lebih pada Aristoteles yang teleh disebutkan di depan. Di samping kedua aliran ini masih banyak aliran filsafat yang belum disebutkan di sini.
2.Dimensi ontologis, hal ini setelah membenahi cara memperoleh pengetahuan, filsuf mulai menghadapi objek-objeknya untuk memperoleh pengetahuan. Objek-objek itu dipikirkan secara mendalam sampai pada hakikatnya. Inilah sebabnya bagian ini dinamakan  teori hakikat, yang biasa disebut dengan istilah ontologi (Ahmad Tafsir, 2009: 28). Bidang bahasan dalam dimensi ontologis ini sangat luas, yakni segala yang ada, dan yang mungkin ada, yang boleh juga mencakup pengetahuan dan nilai (yang dicarinya ialah hakikat pengetahuan dan kakikat nilai).
3.Dimensi aksiologis, bahwa dalam dimensi ini seandainya ditanyakan kepada Socrates atau Nietzsche tentang apa guna filsafat, agaknya mereka akan menjawab bahwa filsafat dapat menjadikan manusia menjadi manusia. Artinya, dengan filsafat orang akan bisa menjadi orang bijaksana. Namun bila melihat rumusan ini nampaknya terlalu umum, sehingga sulit dipahami. Untuk memahami kegunaan filsafat di tingkat teknis operasionalnya, dapat dimulai dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, pertama filsafat sebagai kumpulan teori, kedua filsafat sebagai pandangan hidup (philosophy of life), dan ketiga filsafat sebagai metode pemecahan masalah (Ahmad Tafsir, 2009: 42).
Filsfat sebagai kumpulan teori filsafat, digunakan untuk memahami dan mereaksi dunia pemikiran. Sedangkan filsafat sebagai philosophy of life (pandangan hidup) ini sangat penting untuk dipelajari, sebab dalam hal ini fungsinya mirip dengan agama (Ahmad Tafsir, 2009: 42). Dalam posisi ini filsafat dapat menjadi jalan kehidupan. Jika dalam agama X dikatakan bahwa agama X  itu adalah jalan kehidupan, maka filsafat sebagai filsafat hidup demikian juga halnya. Ia menjadi pedoman. Isinya berupa ajaran dan ajaran itu dilaksanakan dalam kehidupan. Perbedaannya agama dengan filsafat adalah bila filsafat dipandang sebagai teori, maka teori itu ada yang dipakai dan ada yang tidak dipakai, ada yang diakui kebenarannya dan ada yang tidak diakui. Intinya bahwa filsafat sebagai philosophy of life gunanya untuk petunjuk dalam menjalani kehidupan, lebih singkat lagi: untuk dijadikan agama  (Ahmad Tafsir, 2009: 43). Dan selanjutnya, bahwa filsafat sebagai metodology dalam memecahkan masalah, ada berbagai cara yang ditempuh orang bila hendak menyelesaikan sesuatu masalah. Seperti memecahkan masalah dengan  cara sains, sehingga hal ini pusat perhatiannya pada fakta empiric, namun ada juga yang menyelesaikan masalah dengan cara filsafat, dan lain sebagainya.
Berdasarkan uraian singkat di atas, dapatlah dikatakan bahwa dimensi aksiologis dari filsafat adalah berupa kegunaan filsafat dan itu luas sekali. Di mana pun dan pada apa pun filsafat diterapkan di situ filsafat memiliki kegunaan. Bila digunakan dalam pedidikan, maka akan dapat dilihat bahwa filsafat berguna bagi pendidikan, bila digunakan dalam bahasa, ia berguna bagi bahasa, dan bila digunakan dalam agama, maka filsafat juga dapat dilihat bahwa filsafat berguna bagi agama, dan seterusnya. Inilah pemehaman filsafat dalam dimensi aksiologis.


5. Objek Filsafat
            Tujuan filsafat ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya. Jika kebenaran yang sebenarnya itu disusun secara sistematis, jadilah ia sistematika filsafat. Sistematika filsafat itu pada garis besarnya ada tiga dimensi besar filsafat, yakni dimensi epistemologis, dimensi ontologism, dan dimensi aksiologis.
            Isi filsafat ditentukan oleh objek apa yang dipikirkan. Objek yang dipikirkan oleh filososf adalah segala yang ada dan yang mungkin ada, jadi sangat luas objeknya. Oleh sebab itu objek filsafat dapat dipahami sebagai berikut:
Objek filsafat ada dua jenis, yaitu:
a.      Objek materiil.
Tentang objek materiil filsafat banyak yang sama dengan objek materiil sains. Bedanya ialah dalam dua hal. Pertama, bahwa sains menyelidiki objek materiil yang empiris, sedangkan filsafat menyelidiki objek itu juga, tetapi bukan bagian yang empiris, melainkan bagian yang abstraknya. Kedua, objek materiil filsafat yang memang tidak dapat diteliti oleh sains, seperti Tuhan, hari akhir,, yaitu objek materiil yang untuk selama lamanya tidak empiris. Jadi objek materiil filsafat tetap saja lebih luas dari objek materiil sains.
b.      Objek formil.
Objek formil, yaitu sifat penyelidikan. Objek formil filsafat adalah penyelidikan yang mendalam. Artinya, ingin tahunya filsafat adalah ingin tahu bagian dalamnya. Kata mendalam, artinya ingin tahu tentang objek yang tidak empiris.
 

6. Cara memahami objek material filsafat.

Pemahaman pertama atas segala sesuatu ialah pemahaman mengenai suatu yang identik.  Artinya, bahwa “Sesuatu” itu Sesuatu yang tertentu, dan bukannnya sesuatu yang lain. Yaitu: “Ini” adalah Ini dan bukan Itu.  Kelanjutannya berupa suatu konsep, bahwa A=A, A bukan non A, segala sesuatu itu A atau non A. Contoh kongkritnya ialah bahwa “Mangga” itu Mangga. 
 Jadi terdapat suatu keteraturan, bahwa kalau kita menanam  biji mangga, maka kita pada suatu waktu akan memetik buah mangga. Mengapa ?. Karena segala sesuatu itu identik dengan hakekatnya, jati dirinya. Segala sesuatu itu menjadi sesuatu di dalam suatu kerangka himpunan hal hal, sedemikian rupa sehingga pemahaman tentang sesuatu juga kita peroleh melalui vector, atau medan keberadaannya.  Suatu alat rumah tangga misalnya, yang kita kenal sebagai “Meja”, kita takrifkan sebagai “Alat Rumah Tangga” yang isi pengertiannya plus terhadap pengertian Alat Rumah Tangga, namun yang wilayah berlakunya pengertian “meja” lebih sempit daripada wilayah yang dicakup oleh pengertian Alat Rumah Tangga. Suatu Subjek yang didefinisi harus lebih sempit dari Predikatnya, dan juga lebih kongkret.  Rumusnya ialah : S < P. Lalu kalau kita bertanya : Semua ini apa ?.  
 Sesuai dengan aturan di atas, Sesuatu itu, yaitu Semua, yang harus merada pada sesuatu yang keluasannya melebihi Sesuatu yang kita sifatnya sebagai Semua itu tadi.  Kalau begitu, maka Semua itu bukan Semua, sebab masih ada sesuatu yang mengatasi kesemuanya. Baru membicarakan suatu hal yang kita sebut “Semua” saja, kita berhadapan dengan sesuatu, yang mau tidak mau kita lalu .......(merenung) .  Jadi yang namanya “semua” adalah disebut “ada”.  Artinya: ada dalam realita (kenyataan), ada dalam pikiran, dan ada dalam kemungkinan.

Ada daapat dibedakan menjadi dua yaitu:
a. ada umum
b. Ada khusus


7. sistematika Filsafat

Hasil berpikir tentang segala sesuatu yang ada dan mungkin ada itu tadi telah banyak sekali terkumpul, di dalambuku buku tebal dan tipis. Setelah disusun secara sistematis, ia dinamakan sistematika filsafat, disebut juga struktur filsafat. Sebelum ini sudah disebutkan bahwa dalam garis besarnya filsafat dibagi tiga cabang besar, yaitu: teori pengetahuan atau pemikiran filosofis tentang pengetahuan, teori hakikat, dan teori nilai, yaitu pemikiran filosofis tentang nilai. Berikut ini ketiga cabang itu akan diuraikan lebih rinci lagi.
Karena objek penelitian filsafat luas sekali (objek filsafat), dan sifat penelitiannya yang mendalam (objek forma), hasil penelitian itu bertambah terus dan tidak ada yang dibuang, maka hasil pemikiran yang terkumpul dalam sistematika filsafat menjadi banyak sekali. Karena banyaknya, jangankan mempelajarinya, membaginya pun repot. Oleh karena itu, tidak seorang pun yang berani mengaku ahli dalam filsafat; paling banter ia mengaku ahli logika, atau ahli dalam filsafat hokum, atau ahli dalam eksistensialisme saja. Di sini akan dicoba melihat cabang-cabang filsafat sampai yang kecil-kecil supaya dapat dipahami kapling-kaplingnya.
Perlu diulang lagi bahwa dalam garis besarnya filsafat mempunyai tiga cabang besar, yaitu: teori pengetahuan, teori hakikat, dan teori nilai. Teori pengetahuan pada dasarnya membicarakan cara memperoleh pengetahuan. Teori hakikat membahas semua objak, dan hasilnya ialah pengetahuan filsafat. Yang ketiga, teori nilai atau disebut juga aksiologi, membicarakan guna pengetahuan tadi. Kalau begitu ringkasannya ialah sebagai berikut:
                           -teori pengetahuan membicarakan cara memperoleh pengetahuan, disebut epistemology
                           -teori hakikat membicarakan pengetahuan itu sendiri, disebut ontology
                           -teori nilai membicarakan guna pengetahuan itu, disebut axiology (Ahmad Tafsir, 2009: 23).
Inilah keseluruhan filsafat dalam garis besar yang ringkas, dan beriut bias dilihat sedikit lebih luas dan dalam.

8. Cabang cabang filsafat

Bidang-bidang yang masuk dalam wilayah filsafat dan merupakan konsep-konsep dasar filsafat meliputi:
1). Metafisika, yaitu suatu usaha untuk sampai pada teori umum dalam rangka menerangkan dan melukiskan alam semesta sebagai satu keseluruhan.
Hal ini metode yang digunakan bukan metode empirik, tetapi deduktif, sehingga muncullah pengertian metafisika sebagai berikut:
a. Metafisika adalah suatu usaha untuk memperoleh suatu penjelasan yang benar tentang kenyataan.
b. Metafisika adalah studi tentang sifat dasar kenyataan dalam aspeknya yang sangat umum sejauh hal itu dapat dicapai manusia.
c. Metafisika adalah studi tentang “kenyataan yang terdalam” dari semua hal.
d. Metafisika adalah suatu usaha intelektual yang sungguh sungguh untuk melukiskan sifat sifat umum dari kenyataan.
e. Metafisika adalah teori tentang sifat dasar dan struktur dari kenyataan.
Metafisika sangat luas bahasannya, sehingga metafisika dapat dibahas dalam tiga cabang, yaitu: ontologi, kosmologi, dan antropologi metafisik.
a). Ontologi, adalah ilmu yang menyelidiki sifat dasar dari objek-objek fisis, hal universal, dan abstrak.
Oleh sebab itu, ontologi merupakan teori tentang prinsip-prinsip umum dari hal ada, atau ontologi dapat dipandang sebagai teori mengenai yang ada.
b). Kosmologi adalah ilmu yang menyelidiki tentang tata-tertib yang sangat fundamental dalam kenyataan.
c). Antropologi metafisik adalah ilmu yang menyelidiki tentang manusia yang berkaitan dengan pertanyaan pertanyaan tentang hakikat manusia dan pentingnya dalam alam semesta. 
d). Epistemologi
Yaitu: cabang filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode dan kesahihan pengetahuan. Sedangkan filsafat ilmu mempelajari tentang ciri ciri pengetahuan ilmiah dan cara bagaimana mendapatkannya.
Oleh sebab itu mempelajari epistemologi dan filsafat ilmu diharapkan dapat membedakan antara pengetahuan dan ilmu serta mengetahui dan menggunakan metode yang tepat dalam memperoleh suatu ilmu


9. Aliran aliran Filsafat.

Aliran-aliran filsafat dasarnya adalah: a. Persoalan tentang keberadaan (dimensi ontologis) b. Persoalan pengetahuan (dimensi epistemologis) c. Persoalan nilai-nilai (dimensi aksiologis).

Ad. a. Persoalan tentang keberadaan (dimensi ontologism), bahwa keberadaan dapat dilihat dari dua kategori, yaitu: (lihat bagan di bawah ini).

Ada  dibedakan menjadi dua, yakni:
a. Kuantitas;
b. kualitas

ad. a.Kuantitas terdiri dari: 1). Monisme (satu) ; 2). Dualisme (dua) ; 3). Pluralisme (banyak)
Ad.b.Kualitas terdiri dari:  Spiritualisme dan Meterialisme

Keterangan tentang keberadaan dipandang dari segi kuantitas, yaitu:
1).Monisme,
Yaitu aliran yang menyatakan bahwa hanya ada satu kenyataan fundamental di jagad raya ini dapat berupa: Tuhan atau substansi lain, seperti jiwa, materi. Dll. yang tak dapat diketahui.
Tokohnya, seperti:
Thales (abad 6 Seb. M.) Mengatakan air sebagai substansinya,
Anaximandros (abad 6 Seb. M) mengatakan bahwa Apeiron, yaitu sesuatu yang tak terbatas sebagai substansinya,
Baruch Spinoza (abad 17 M) berpendapat bahwa satu substansi itu adalah Tuhan yang dalam hal ini Tuhan diidentikkan dengan alam (Yunani: Naturans naturata).
2).Dualisme
Yaitu: aliran yang menganggap adanya dua substansi yang masing masing berdiri sendiri-sendiri.
Tokohnya, yaitu:
Plato (427-347 Seb. M). Yang membedakan adanya dua dunia, yaitu dunia indra (dunia bayang-bayang) dan dunia intelek (dunia idea).
Rene Descartes (1596-1650), yang membedakan substansi pikiran dan substansi keluasan.
Immanuel Kant (1724-1804) yang membedakan antara dunia gejala (fenomena) dan dunia hakiki (noumena)
3).Pluralisme, yaitu:
Aliran yang tidak mengakui adanya satu substansi atau dua substansi, melainkan banyak substansi sebagai kenyataan yang fundamental.
Tokohnya, yaitu:
Empedokles (490-430 Seb. M), yang menyatakan bahwa hakekat kenyataan terdiri dari empat unsur, ialah udara, api, air, dan tanah.
Anaxagoras, yang menyatakan bahwa hakikat kenyatan terdiri dari unsur-unsur yang tak terhitung jumlahnya, sebanyak jumlah sifat-sifat benda dan semuanya itu dikuasai oleh suatu tenaga yang dinamakan “nous”.
Dikatakan olehnya bahwa “nous” adalah suatu zat yang paling halus yang memiliki sifat pandai bergerak dan mengatur, tapi tidak diatur.
Tokoh-tokoh pendukungnya adalah filsuf Postmodern, seperti Mitchel Foucault, J.J. Derrida, dan J.F. Lyotard (mereka sebagai tokoh yang memihak pada aliran pluraslisme)

Keterangan tentang keberadaan dipandang dari segi kualitas/sifatnya, adalah:
Ad. Spiritualisme,
Yaitu aliran yang menyatakan bahwa kenyataan fundamental adalah jiwa (pneuma, nous, reason, logos).
Jadi, yang mendasari seluruh alam ini adalah jiwa, sehingga ini dilawankan dengan materialisme.
Tokoh-tokohnya, yaitu:
Plato (427-347 Seb. M), yaitu dengan ajarannya tentang idea (cita). Idea (cita) adalah gambaran asli segala benda. Jadi semua benda yang ada di alam raya ini hanyalah merupakan bayangan idea saja.
1).Materialisme, yaitu:
Aliran yang menyatakan bahwa tidak ada hal yang nyata keculi materi.
Pikiran dan kesadaran hanyalah penjelmaan dari materi dan dapat dikembalikan pada unsur-unsur fisik.
Jadi hal-hal yang bersifat kerochanian, seperti pikiran, jiwa, keyakinan, rasa sedih, dll. Tidak lain hanyalah ungkapan proses kebendaan.
Tokohnya, yaitu:
Demokritos (460-370 Seb. M) yang mengatakan bahwa alam semesta ini tersusun dari atom-atom kecil yang memiliki bentuk dan badan.
Atom-atom ini sifatnya sama, dan bedanya hanya pada bentuk, besar, dan letaknya. Oleh sebab itu jiwa pun terjadi dari atom-atom, hanya saja atom jiwa lebih kecil, bulat, dan sangat halus, serta mudah bergerak.
Thomas Hobbes (1588-1679), yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini merupakan gerak dari materi, termasuk juga pikiran, perasaan adalah gerak materi belaka.
Jadi, segala sesuatu terjadi dari benda-benda kecil, sehingga filsafat sama dengan ilmu yang mempelajari benda-benda.

ad. b. Persoalan pengetahuan yang bertalian dengan sumber-sumber pengetahuan (dimensi epistemologis), yaitu berupa:
Epistemologi membicarakan  sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperolehnya pengetahuan itu. Hal ini dapat dilihat sebagai berikut:
1). Aliran rasionalisme
Yaitu, aliran yang berpandangan bahwa semua pengetahuan bersumber pada akal (rasio).
Tokohnya, ialah:
Rene Desacartes (1596-1650), mengatakan bahwa manusia sejak lahir telah memiliki idea bawaan (innate ideas). Dan tokoh yang lain, yaitu: Spinoza, dan Leibniz.
Pada perkembangan dewasa ini muncul aliran “Rasionalisme kritis” dengan tokohnya Karl R. Popper (1902- )
2). Aliran empirisme,
Yaitu aliran yang berpandangan bahwa semua pengetahuan diperoleh liwat indera.
Prosesnya: Indera memperoleh kesan-kesan dari alam nyata, kemudian kesan-kesan itu berkumpul dalam diri manusia yang kemudian diolah menjadi pengalaman.
Tokohnya : John Locke (1632-1704), Thomas Hobbes (1588-1679), David Hume (1711-1776)
John Locke mengatakan, bahwa waktu lahir jiwa manusia adalah putih bersih (tabularasa), tidak ada bekal dari siapa pun.
Akal/ rasio pasif pada waktu pengetahuan didapatkan. Artinya, bahwa akal/ rasio tidak melahirkan pengetahuan dari dirinya sendiri.
Jadi, semula akal serupa dengan secarik kertas putih yang tanpa tulisan, yang siap menerima sesuatu yang datang dari pengalaman. 
John Locke tidak membedakan antara pengetahuan iderawi dan pengetahuan akali.
Satu-satunya obyek pengetahuan adalah idea-idea yang timbul karena empiri/ pengalaman lahiriah (sensation) dan karena pengalaman/ empiri batiniah (reflection).
Kedua macam pengalaman itu jalin menjalin, yaitu pengalaman lahiriah menghasilkan gejala-gejala psikis yang harus ditanggapi oleh pengalaman batiniah.
Yang dibedakan oleh John Locke adalah antara idea-idea tunggal (simple ideas) dan idea-idea majemuk (complex ideas).
Idea tunggal datang pada manusia langsung dari pengalaman, tanpa pengolahan logis, sedang idea majemuk timbul dari gabungan idea-idea tunggal.
Jadi, jika idea-idea secara teratur bersama menampilkan diri, maka idea-idea itu sebagai satu hal yang sama, yang berdiri sendiri, yaitu yang disebut substansi.
3). Aliran Kritisisme,
Yaitu: aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu berasal, baik dari dunia luar, maupun dari jiwa atau pikiran manusia.
Prosesnya: akal memperoleh pengetahuan dari empiri/ pengalaman, kemudian akal mengatur dan mentertibkan dalam bentuk pengamatan, yakni dalam bentuk ruang dan waktu.
Tokohnya: Immanuel Kant (1724-1804)
Immanuel Kant (1724-1804) seorang filsuf Jerman yang mencoba mengatasi pertikaian antara rasionalisme dan empirisme.
Mulanya Kant mengakui rasionalisme, kemudian empirisme datang mempengaruhinya. Waktu menghadapi empirisme, Kant tidak begitu saja menerimanya, karena Kant tahu bahwa empirisme membawa keraguan terhadap rasio.
Di satu pihak, Kant mengakui kebenaran indra, dan di lain pihak, Kant mengakui pula bahwa rasio mampu mencapai kebenaran.
Oleh sebab itu, Kant mengkompromisasikan antara kedaulatan rasio dengan kedaulatan empiri/ pengalaman, yaitu:
Bagaimanapun, fungsi rasio adalah yang pertama dan utama, namun rasio/ akal harus mengakui persoalan-persoalan yang ada di luar jangkauannya.
Pada waktu rasio tidak mampu meraih pengetahuan, maka di sinilah batas-batas di mana ketentuan akal itu tidak berlaku lagi, dan sejak itulah fungsi pengalaman/ empiri tampil sebagai suatu cara penyampaian pengetahuan.
Jadi, bagi Immanuel Kant adalah dari satu pihak mempertahankan objektivitas, universalitas, dan keniscayaan pengertian, namun dari lain pihak ia menerima bahwa pengertian bertolak dari fenomin-fenomin, dan tidak dapat melebihi batas batasnya.
Oleh sebab itu, filsafat Kant tekanannya terletak pada pengertian (kegiatan) pengertian dan penilaian manusia, bukan  menurut aspek psikologis seperti dalam empirisme, melainkan sebagai analisa kritis.
4). Aliran Idealisme
Yaitu: aliran yang berpandangan bahwa dari suatu dasar menelurkan kesimpulan dan kemudian memberi keterangan tentang keseluruhan yang ada.
Artinya, bahwa pengetahuan itu tidaklah lain daripada kejadian dalam jiwa manusia, sedang kenyataan yang diketahui manusia itu ada di luarnya. 
Prosenya: Yang ada adalah berupa idea itulah yang disebut aliran idealisme.
Tokohnya: Fichte (1762-1814); Schelling (1775-1854); Hegel 1770-1831).
Fichte mengakui dan memberikan prioritas yang tinggi kepada Aku, sehingga dikatakan bahwa Aku adalah satu-satunya realitas.
Bedanya dengan Schlling yang juga tokoh idealisme, yaitu bahwa Schelling mengakui obyek (bukan Aku) itu sungguh sungguh ada.
Sehingga kalau bagi Fichte, obyek itu muncul dari Aku, maka Schelling mengatakan Aku (subyek) dari alam (bukan Aku) yang sungguh-sungguh ada.
Akan tetapi, munculnya Aku dari alam adalah yang telah sadar.
Jadi, tampak ada keserasian antara Fichte dan Schelling
Sedangkan bagi Hegel yang juga tokoh idealisme, mengatakan:
Bahwa dibedakan antara yang mutlak dan yang tidak mutlak.
Yang mutlak adalah jiwa, namun jiwa itu menjelma pada alam, dan sadarlah akan dirinya.
Jiwa adalah idea, yang artinya berpikir. Dan dalam diri manusia, idea itu sadar akan dirinya, maka manusia itu merupakan bagian dari idea yang mutlak, yatu Tuhan.
5). Aliran Positivisme,
Yaitu: aliran yang berpandangan bahwa kepercayaan kepercayaan yang dogmatis harus digantikan dengan pengetahuan faktawi.
Artinya: bahwa filsafat hendaknya dan semata-mata mengenai dan berpangkal pada peristiwa-peristiwa positif, yaitu peristiwa-pristiwa yang dialami manusia.
Prosesnya: apapun yang berada di luar pengalaman tidak perlu diperhatikan.
Tokohnya: August Comte  (1798-1857); Emile Durkheim (1858-1917); John Stuart Mill (1806-1873).
Menurut Comte, jiwa dan budi adalah basis dari teraturnya masyarakat. Oleh sebab itu, jiwa dan budi haruslah mendapatkan pendidikan yang cukup dan matang. Sehingga menutut Comte, bahwa sekarang saatnya hidup dengan mengabdi pada ilmu positif, seperti matematika, fisika, biologi, ilmu kemasyarakatan, dll.
Hal ini seperti dikatakan oleh Comte, bahwa pengetahuan manusia di dalamnya ditemukan tiga tahap ilmu pengetahuan, yaitu:
1.Tahap ketika fenomena dijelaskan secara teologis seperti dilakukan pada Abad Tengah.
2. Tahap ketika fenomena dijelaskan secara metafisis seperti dilakukan pada periode Pencerahan.
3. Tahap ketika eksplanasi ditempuh melalui observasi hubungan hubungan serta ilmu ilmu yang mencapai konstruksi.

Jadi, Comte yakin bahwa ilmu-ilmu yang positivistik telah bergerak dari status yang lebih bersifat umum menuju tahap dan sifat yang lebih konkrit dan kompleks, seperti: matematika, astronomi, fisika, kimia, biologi, dan sosiologi.
Comte mengatakan, bahwa budi atau pemikiran manusia mengalami 3 tingkatan, yaitu:
Tingkat  teologis,
Tingkat  metafisis,
Tingkat  positif.
Pada tingkat teologis, manusia mengarahkan jiwanya kepada hakekat “batiniah” segala sesuatu dengan pengaruh dan sebab sebab yang melebihi kodrat, yaitu kepada “sebab pertama” dan “tujuan terakhir”.
Pada tingkat kedua, yaitu tingkat metafisika yang hanya perubahan saja dari teologis, karena yang hendak diterangkan harus melalui abstraksi.
Sebab kekuatan yang adikodrati hanya diganti dengan kekuatan yang abstrak, yang dipandang sebagai asal segala penampakan atau gejala yang khusus.
Tingkat  ketiga, yaitu tingkat  positif di mana manusia menganggap, bahwa tidak ada gunanya untuk berusaha mencapai pengetahuan yang mutlak, baik pengetahuan teologis, maupun pengetahuan metafisis.
Sebab tujuan tertinggi adalah bilamana gejala gejala telah dapat disusun dan diatur di bawah satu fakta yang umum saja, misal: gaya berat. Jadi di sini hanya memperhatikan yang sungguh sungguh dan sebab akibat yang sudah ditentukan.
Emile Durkheim yang mengatakan bahwa positivisme sebagai asas sosiologis.
John Stuart Mill menggunakan sistem positivisme pada ilmu jiwa, logika, dan kesusasteraan.
6). Aliran Evolusionisme,
Yaitu: aliran yang berpandangan bahwa manusia adalah perkembangan tertinggi dari taraf hidup yang paling rendah.
Prosesnya: yaitu alam yang juga diatur oleh hukum hukum mekanik.
Berupa hukum survival of the fittest dan hukum struggle for live.
Tokohnya: Charles Darwin (1809-1882); Herbert Spencer (1820-1903).
Darwin mengatakan, bahwa manusia adalah perkembangan tertinggi dari taraf hidup yang paling rendah, yaitu alam, dan juga diatur oleh hukum-hukum mekanik  Jadi, hukum survival of the fittest dan hukum struggle for live dari tumbuh-tumbuhan dan hewan berlaku pula bagi manusia.
Sedangkan bagi Herbert Spencer, yang dapat dikenal adalah “yang menjadi”, bukannya “yang ada”. Oleh sebab itu, proses dunia ini tiada lain merupakan berkumpulnya kembali gerak dan bahan. Maka, evolusi adalah peralihan hubungan yang lebih erat (integrasi) dalam bahan, yang dengan sendirinya disertai oleh perluasan gerak.
7). Aliran Eksistensialisme,
Yaitu: aliran yang berpandangan  untuk mengerti seluruh realitas.
Artinya, bahwa manusia harus bertitik tolak pada manusia yang konkrit, yaitu manusia sebagai existensi; dan sehubungan dengan titik tolak ini maka bagi manusia existensi itu mendahului essensi.
Prosesnya, yaitu memahami secara sadar, apakah sebenarnya mengetahui itu, maka harus mengetahui manusia yang benar-benar ada.
Tokohnya: Martin Heidegger (1889- ); Karl Jaspers (1883- ); Jean Paul Sartre (1905- ).
Ciri-ciri aliran existensialisme adalah:
1. manusia menyuguhkan dirinya (existere) dalam kesungguhannya.
2. manusia harus berhubungan dengan dunia.
3. manusia merupakan kesatuan sebelum ada perpisahan antara jiwa dan badannya
4. manusia berhubungan dengan “yang ada”.
Hal di atas seperti dikatakan oleh Martin Heidegger, bahwa persoalan tentang “berada” hanya dapat dijawab melalui ontologi.
Artinya: jika persoalan ini dihubungkan dengan manusia dan dicari artinya dalam hubungan ini, maka agar berhasil harus dipergunakan metode “fenomenologis”.
Jadi, yang penting menemukan arti “berada” itu. Satu-satunya “berada” yang dapat dimengerti sebagai “berada”, ialah “berada”-nya manusia.
Catatan: harus dibedakan antara “berada” (Sein) dan “yang berada” (Seinde)
Ungkapan “yang berada” (Seinde) hanya berlaku bagi benda-benda, yang bukan manusia.
Jadi, benda-benda itu hanya “vorhanden”, artinya: hanya terletak begitu saja di depan orang, tanpa ada hubungannya dengan orang itu.
Keberadaan manusia disebut “Dasein”, artinya: “berada di dalam dunia”.
Oleh karena manusia “berada di dalam dunia”, maka manusia dapat memberi tempat kepada benda-benda yang di sekitarnya.

Ad. 3. persoalan dalam dimensi aksiologis.

            Seandainya ditanyakan kepada Socrates atai Nietzsche apa guna filsafat, agaknya mereka akan menjawab bahwa filsafat dapat menjadi manusia menjadi manusia. Dengan filsafat orang akan mungkin menjadi orang bijaksana. Kegunaan filsafat dalam rumusan ini terlalu umum sehingga sulit dipahami. Berikut ini dicoba dengan menampilkan beberapa aliran seperti:
1.Aliran Hedonisme, yaitu aliran yang menganjurkan bahwa manusia untuk mencapai kebahagiaan yang didasarkan pada kenikmakatn, dan kesenangan.Tokohnya: Epicurus (341-270 SM) yang menyatakan bahwa kesenangan dan kebahagiaan adalah tujuan hidup manusia.  Epikuros mengatakan, bahwa manusia harus mengikuti tatanan dunia, tidak perlu takut mati, harus menggunakan kehendak yang bebas dan mencari kesenangan sebanyak mungkin. Namun, jika terlalu banyak kesenangan itu akan membuat sengsara. Oleh karena itu, manusia perlu membatasi diri dengan mengutamakan batin (Suparlan Suhartono, 2007: 102)
      2.Aliran Pragmatisme, yaitu aliran yang menyatakan bahwa tindakan yang baik adalah tindakan yang menimbulkan kosekuensi-konsekuensi yang menguntungkan.
Tokohnya, yakni  John Dewey (th. 1859-1952) mengatakan, bahwa kebenaran adalah dimisalkan manusia sedang tersesat di tengah hutan. Kepada diri sendiri manusia akan berkata dengan yakin bahwa “jalan keluarnya adalah ke arah kiri”. Pernyataan ini akan berarti jika manusia benar benar melangkah ke arah kiri. Selanjutnya, pernyataan ini benar apabila arah kiri itu pada akhirnya mengakibatkan konsekuensi positif, yakni benar-benar dapat membawa manusia tersebut keluar dari hutan itu.
Jadi, benar menurut pragmatisme bergantung pada kondisi-kondisi yang berupa (manfaat), kemungkinan dapat dikerjakan (workability), dan konsekuensi yang memuaskan (satisfactory results) ((Suparlan Suhartono, 2007: 81)

10.Filsafat adalah Berpikir Ilmiah
            Dalam menghadapi  berbagai masalah hidup di dunia ini, manusia akan menampilkan berbagai alat untuk mengatasinya. Alat itu adalah pikiran atau akal yang berfungsi di dalam pembahasannya secara filosofis tentang masalah yang dihadapi. Pikiran yang bagaimanakah yang dapat masuk dalam bidang filsafat itu ?. Jawabannya adalah pikiran yang senantiasa bersifat ilmiah. Jadi, pikiran itu mempunyai kerangka berpikir ilmiah filsafat, karena itu tidak semua berpikir itu bias diartikan berpikir filsafat. Berpikir ilmiah filsafat mengandung khasiat-khasiat tertentu, yaitu: mengabstrakhir pokok persoalan, bertanya terus sampai batas terakhir yang beralasan, dan berelasi (bersistem).

a.      Mengabstrakhir pokok persoalan
            Beraneka macam persoalan yang dihadapi tidak begitu saja dapat diselesaikan. Pemilihan salah satu pokok tertentu adalah harus. Dari pokok tertentu yang merupakan kenyataan diusahakan dapat ditangkap dalam pikiran.

Kenyataan                                                       Abstraksi
                                    A                                                                      B

            Mengabstrakhir adalah membuang sifat sifat yang tampak satu persatu, sehingga tinggallah suatu gambaran yang sifatnya universal. Aristoteles, pemikir besar Yunani Kuno, mengatakan bahwa segala sesuatu mempunyai cara-cara berbeda, yang disebut kategori. Sedangkan darinya (hal yang ada) itu mempunyai sepuluh kategori, yaitu: substansi, kualitas, kuantitas, relasi, waktu, tempat, keadaan, aksi, pasi, dan posisi. Dengan cara menghilang satu persatu dari kategori-kategori itu, maka yang tinggal hanyalah satu hal yaitu substansi. Mengabstraksikan sesuatu hal, misalnya meja, adalah menangkap keseluruhan meja itu agar berada di dalam angan-angan akal pikiran setelah melampaui proses penghilangan segala sifatnya yang Nampak (Sembilan kategori) sehingga tinggal hanya satu hal yaitu substansi.

b.      Bertanya terus menerus sampai batas terakhir
            Yang dimaksud bertanya terus menerus adalah bukan sekedar bertanya tanpa arah, melainkan kontinuitas pertanyaan yang betul betul terarah kepada keselesaian akan objek yang sedang dipikirkan. Itulah yang dimaksudkan dengan bertanya terus menerus sampai pada batas terakhir, yang tentunya disebut juga pertanyaan ilmiah filsafat. Pertanyaan itu berjumlah empat, berturut-turut adalah: bagaimana, mengapa, ke mana, dan apa.

Pertanyaan pertama, bagaimana:
            Pertanyaan ini memperoleh jawaban sistematis dari sifat objek yang diselidiki (pengetahuan atau diskretif).  Misalnya, sebuah meja sebagai objek, maka diperoleh sifat kuat, warna, dan bentuknya. Muncullah pertanyaan sifat sendiri itu apa ?. Prof. Notonegoro dalam Pancasila Secara Ilmiah Populer (1975) mengatakan bahwa sifat adalah suatu hal yang tidak berdiri sendiri, akan tetapi adanya itu terletak pada barang yang lain dan menjadi satu dengan barang yang lain itu, sehingga kemudian menjadi bagian darinya. Misalnya warna tertentu pada sebuah meja, dulu merupakan hal tersendiri, dan sesudah diletakkan pada sebuah meja maka kemudian menjadi satu dan merupakan sifat dari meja itu.
            Selanjutnya dikatakan bahwa sifat digolongkan dalam empat maca, yaitu:
(1). Sifat lahir, yaitu sifat yang berasal dari luar, misalnya cat tertentu yang diletakkan dalam sebuah meja.
(2). Sifat batin, yaitu sifat bawaan, misalnya meja tadi terbuat dari kayu jati. Kayu jati memang mempunyai sifat kuat dapat mempengaruhi benda yang terbuat darinya berupa kekuatan pula.
(3). Sifat wujud, bentuk dan susunan dari barang tersebut.
(4). Sifat kekuatan, tenaga agau gaya yang ada pada barang tersebut.
            Semua golongan sifat tersebut bersama sama menyifatkan hal atau barangnya. Adapun sifat-sifat yang telah menjadi sifat dari hal atau barang itu, disebut keadaan.

Pertanyaan kedua, mengapa:
            Pertanyaan ini menghasilkan jawaban tentang sebab musabab dari hal atau sesuatu (objek), yang disebut juga sebagai pengetahuan kausal. Sebab musabab (causal) adalah hal yang menyebabbkan adanya objek secara mutlak. Lalu pengertian “sebab” adalah suatu hal yang mempengaruhi perubahan dalam arti yang luas terhadap suatu hal. Sedang akibat merupakan hasil dari sebab. Mengenai sebab-akibat (causa) ini ada empat hal, yaitu:
(a). causa materialis, yaitu sebab yang berupa bahan.
(b). causa formalis, yaitu sebab yang berupa bentuk.
©. causa finalis, yaitu sebab yang berupa tujuan.
(d). causa efisien, yaitu sebab yang berupa karya.
            Empat sebab itu bila diperuntukkan pada contoh meja tadi bias dijabarkan: kayunya adalah sebab bahan atau causa materialis. Tetapi yang berubah bukan kayunya, melainkan  bentuknya, maka hal itu disebut sebab bentuk, causa formalis. Kayu sebagai bahan tidak hanya dapat dibuat meja, melainkan bias dibuat macam-macam, maka kayu yang dibuat meja adalah sebab tujuan atau causa finalis. Dari ketiga sebab itu, belum bias menjadi wujud sebuah meja, apabila belum dikerjakan menjadi meja. Setelah selesai menjadi meja, maka hal itu disebut sebab karya atau causa efisien.

Pertanyaan ketiga, ke mana:
            Pertanyaan ini mewujudkan jawaban yang merupakan norma-norma (pengetahuan normative). Norma adalah peraturan peraturan atau hokum hokum yang dikenakan pada saat penyelidikan dinyatakan selesai. Jika memakai contoh meja, maka dalam membuat meja seharusnya selalu memakai norma norma pembuatan. Misalnya, tukang meja harus membuat meja menurut praktis kegunaan, keindahan, nilai intrinsic atau ekstrinsik, dan nilai kesesuaiannya, dengan pertimbangan pertimbangannya sendiri, misalnya pemodalan, kreativitas, dsb.

Pertanyaan keempat, apa:
            Dari pertanyaan ini diperlukan suatu jawaban yang berupa inti-isi mutlak dari objeknya. Kembali meja menjadi contoh. Lalu apakah hakikat inti-isi mutlak dari meja itu ? persoalan yang muncul di sini adalah hakikat itu sendiri. Hakikat adalah unsure-unsur yang bersama sama menyusun segala sesuatu yang terpisah dari hal hal lain dan membuatnya menjadi satu kesatuan, yaitu sebagai diri. Dengan kata lain yang menjadikan sdanyasegala sesuatu itu dinamakan hakikat. Hakikat yang demikian adalah hakikat dalam arti konkritnya. Yaitu hakikat setiap hal tertentu yang maujud, setiap benda mati, setiap hewan, setiap tumbuh-tumbuhan dan setiap manusia.
            Selanjutnya, ada hakikat yang berjenis lain yaitu hakikat pribadi. Hakikat pribadi adalah unsure-unsur yang tetap, tidak berubah dan yang menyebabkan hal yang bersangkutan itu tetap merupakan diri pribadinya. Misalnya, perbuatan yang terjadi pada setiap manusia dari bayi sampai dewasa itu tidak mengubah bentuknya sendiri (yakni bentuk manusia). Kemudian, dari unsure unsure yang tetap itu, kalau diteliti ada yang sama sama  terdapat pada suatu yang berjenis tunggal. Misalnya, sama sama terdapat pada manusia, hewan , tumbuh tumbuhan, dsb. Hakikat demikian disebut hakikat jenis atau umum dan abstrak, karena meskipun terkandung di dalam halnya, akan tetapi tidak maujud.
Jadi, hakikat jenis adalah unsure unsure yang bersama sama dalam suatu kesatuan membentuk sesuatu yang berjenis tunggal. Diambil contah manusia. Di dalam segala perubahan manusia, dari tidak ada ke ada, dari kecil sampai besar, dll, menunjukkan adanya hakikat dalam konkrit manusia. Sifat sifat yang tetap dimiliki oleh semua manusia merupakan sifat mutlak sebagai manusia, sedangkan yang membedakannya dengan hewan, dll, adalah hakikat yang abstrak atau hakikat jenis.
Begitu juga dengan setiap hal lainnya, sperti binatang, tumbuh tumbuhhan, benda mati, dansetiap hal yang ada dalam realitasnya ini adalah tentu memiliki tiga macam hakikat itu.

c.       beralasan.
            Berpikir ilmiah filsafat haruslah beralasan. Jika dijumpai suatu pertanyaan, apakah alas an saudara tidak mau sekolah ?. jawabnya biasanya dimulai dengan kata “karena”. Misalnya, karena sakit, atau yang lain. Jawaban pertama kiranya menyangkut soal prinsip, sebab jika tidak sakit tentu ia akan pergi ke sekolah. Tetapi, jawaban kedua menyangkut soal realisasi atau akibat dari tujuan, karena ia mempunyai maksud kesengajaan tertentu, misalnya supaya gurunya diganti dan dengan demikian tidak mengganggu belajarnya. Jadi masalah alas an kiranya selalu dirangkaikan dengan soal tujuan. Jadi, alasan adalah suatu tanggung jawab atas suatu tindakan tertentu. Kalau demikian, apakah tanggung jawab dari berpikir ilmiah filsafat itu ?. jelas di sini tampak suatu tujuan dari berpikir ilmiah filsafat, yaitu untuk memperoleh jawaban/ keterangan sedalam dalamnya dari suatu objek. Keterangan yang demikian itu berhubungan dengan sudut pandangan.

d.      Harus Sistematis
            Berfilsafat bukanlah merenung tanpa isi atau melamun belaka dan juga bukan berpikir yang bersifat kebetulan. Berfilsafat dengan berpikir ilmiah adalah mencoba menyusun suatu system ilmu pengetahuan yang saling berhubungan, rasional, konseptual, dan memenuhi syarat untuk memahami dunia tempat manusia hidupmaupun untuk memahami dirinya sendiri. Pendek kata, berpikir ilmiah filsafat mengenai suatu hal perlu disusun sebagai suatu system, yaitu bagian yang satu dengan bagian yang lain saling berhubungan dan semua bagian merupakan kesatuan serta kebulatan, tidak boleh dipisah pisahkan dan tidak boleh berdiri sendiri sendiri.


11. Tujuan, Fungsi, dan Guna Filsafat.

Jika dilihat, bahwa tujuan ilmu pengetahuan adalah deskripsi dan kontrol, apabila seni tujuannya kreativitas, kesempurnaan, bentuk, keindahan, komunikasi dan ekspresi, maka tujuan filsafat adalah pengertian dan kebijaksanaan (Inggris: understanding and wisdom). Oleh sebab itu, filsafat memberi hikmah pada manusia, sehingga filsafat memberi kepuasan pada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran.
Jadi, bagi manusia berfilsafat artinya mengatur hidupnya seinsaf-insafnya, sesentral-sentralnya dengan perasaan tanggung jawab.
Henry Bergson (1858-1941) berkata, bahwa berfilsafat itu ibarat berenang.
Jadi, masing-masing orang mempunyai gayanya sendiri-sendiri.
Oleh sebab itu, filsafat bukanlah barang hafalan, seperti 2x2=4 yang setiap orang mempunyai pendapat sama.
Setiap masalah filsafat dapat meluas menjadi pertanyaan akan sistem dan berakhir pada visi ahli filsafat.
Dengan kata lain, ciri dari filsafat pada akhirnya, ialah subyektif.
Hal di atas seperti dikatakan oleh Louis O. Kattsoff dalam buku Elements of Philosophy, yaitu: Bilamana anda mengaharapkan jawaban-jawaban yang tingkat terakhir atas persoalan-persoalan anda, artinya jawaban-jawaban yang oleh semua ahli filsafat saja akan dianggap merupakan kebenaran, maka anda akan kecewa sekali.


D. PENUTUP

Kesimpulan tentang pengertian filsafat secara umum
Dari uraian tentang filsafat di atas, dapat disimpulkan bahwa Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan mempergunakan akal sampai pada hakikatnya.

Tiga pemahaman, yakni:
a.      subjek .
b.      aksidensia.
c.        hakekat

Aksidensia terdiri dari 9 hal, yang cirri-cirinya disebutkan oleh Gazalba (1973:11: 145-6) sebagai berikut:
1. Kualitas/sifat, tentang bagaimana mutu sesuatu, seperti gagah, lemah, kuat, dll.
2. Kuantitas/ jumlah, pertanyaan mengenai jumlah, seperti satu, dua, banyak, dll.
3. Relasi/ hubungan, menunjuk suatu hubungan dengan hal lain.
4. Aksi, menunjuk pada perubahan pada suatu hal.
5. Pasivitas, menunjuk pada penerimaan perubahan atau dipengaruni oleh hal lain.
6. Isi, menunjuk pada besar kecilnya sesuatu
7. Waktu, yang menyatakan bilamana sesuatu itu berada.
8. Situasi, menerangkan bagaimana sesuatu itu pada tempatnya.
9. Tempat, pengertian yang menjelaskan hal hal lain yang mengerumuni benda itu.


DaftarPustaka

Ahmad Tafsir, 2009, Filsafat Umum, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya
Amsal Bakhtiar, 2004, Filsafat Ilmu, Jakarta, PT. Grafindo Persada
Bebbington, David, 1979, Patterns in history, , England, Inter-Varsity Press
Caputo, John D. 1987, Radical Hermeneutics, Bloomington and Indianapolis, Indiana University Press
Harun Hadiwijono, 1988, Sari Sejarah Fil safat Yunani,Yogyakarta, Penerbit Kanisius
Robert N. Beck, 1967, Perspectives in Social Philosophy, New York, Holt, Rinehart and Winston, Inc.
Sullivan, John Edward, 1970, Prophets of the West, New York, Holt, Rinehart and Winston, Inc
Suparlan Suhartono, 2007, Dasar-dasar Filsafat, Ruzz Media.Yogyakarta, ArFil.
Surajiyo, 2008, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta, PT. Bumi Perkasa

Jumat, 15 April 2016

PERBANDINGAN AGAMA



PERBANDINGAN AGAMA
Oleh: Drs. Sudadi, M.Hum.


KATA PENGANTAR

            Penulis bukan seorang ahli di bidang agama, melainkan pecinta belajar agama dan sebagai seorang yang beragama juga. Oleh sebab itu dirasa tidak ada maksud apapun dengan pembuatannya ini, kecuali hanya dimaksudkan, apabila mungkin bisa membantu siapa saja yang sedang dan ingin belajar perbandingan agama. Meskipun tentang hal ini telah ditulis oleh banyak orang yang dimungkinkan lebih ahli dan lebih mendalami dalam bidang ini. Disinilah keberanian penulis walaupun bukan seorang ahli tentang agama, namun karena dirasa sangat diperlukan khususnya dalam kegiatannya sebagai pengajar perbandingan agama.
            Berbekal dari pengalaman penulis bergumul dengan beberapa agama, seperti bagaimana pengertian atau arti agama itu sendiri, itulah sebabnya tulisan ini diusahakan uraiannya sejelas dan sesederhana mungkin. Meskipun ini belum tentu memuaskan bagi yang sedang menggeluti ilmu semacam ini. Mungkin juga karya ini masih banyak kekurangannya, atau mungkin bisa menjadi pendorong orang lain yang lebih ahli tentang agama, sehingga bisa menambah keyakinan beragama secara mandiri.
            Uraian dalam tulisan ini membicarakan pengertian agama yang disiapkan untuk para penggemar belajar perbandingan agama. Pada bagian ini diperkenalkan lebih dulu tentang pengertian perbandingan, yang dilanjutkan melihat arti agama itu sendiri. Kemudian melihat jenis jenis agama yang ada di muka bumi ini, sehingga dengan harapan para pembaca memahami janis agama tertentu, untuk menumbuhkan rasa rukunnya terhadap sesama pemeluk agama maupun antar pemeluk agama satu dengan yang lain.
            Suatu pandangan perbandingan adalah suatu pandangan teoritis, yang setiap pemikiran teoritis mempunyai hubungan erat dengan lingkungan di mana pemikiran itu dijalankan. Itu benar juga bagi permulaan pemikir teoritis, yaitu pemikiran tentang berbagai agama yang ada. Kritik dan saran yang sifatnya menyempurnakan akan penulis terima dengan terbuka, dengan harapan agar membantu para pecinta terutama mahasiswa yang sedang dan ingin belajar perbandingan agama.
Denpasar, 20 Juni 2016.
Penulis,


Drs. Sudadi, M. Hum. 



























DAFTAR ISI

ISI                                                                                                       HALAMAN

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

I.PENGERTIAN                                                                                          4

A.Pengertian Agama……………………………………………….           4
B.Perbandingan Agama……………………………………………           5
C.Ruang Lingkup Ilmu Perbandingan Agama…………………..           5
D.Tujuan Mempelajari Ilmu Perbandingan Agama…………….            7
E.Faedah Mempelajari Ilmu Perbandingan Agama……………..           8

II.PERBEDAAN ANTARA ILMU PERBANDINGAN AGAMA, TEOLOGI, DAN FILSAFAT AGAMA                                                                                    9

A.Perbedaannya……………………………………………………           9
B.Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Ilmu Perbandingan Agama
……………………………………………………………………….           10
III. KERUKUNAN HIDUP UMAT BERAGAMA                                 12

A.Sejarah Kerukunan Hidup Beragama……………………………        13
B.Tujuan Kerukunan Hidup Beragama……………………………        14
C.Bentuk Kerukunan Hidup Beragama……………………………        14
D.Kerukunan Dalam Beberapa Agama…………………………….        14

DAFTAR PUSTAKA                                                                                  15





I. PENGERTIAN
A.Pengertian Agama

            Sebelum masuk pada pembahasan tentang “perbandingan agama”, maka perlu diketahui mengenai “pengertian agama”.
Pengertian agama dapat ditinjau dari dua sisi, yakni:
a.secara etimologi
b.secara terminology
            Dari kacamata etimologi, bahwa kata “agama” berasal dari bahasa “sanskerta” yang bermakna “haluan, peraturan, jalan atau kebaktian kepada Tuhan” (Jirhanuddin, 2010: 1).
Pengertian lain dalam bahasa sanskerta, yakni bahwa “agama” tersusun dari dua kata, “A” yang berarti “tidak”, dan kata “Gama” yang berarti “pergi, kacau”. Jadi “agama” berarti “tidak pergi, tidak kacau”. Dengan kata lain bias juga diartikan dengan “tetap ditempat, diwarisi turun temurun”. Selanjutnya ada pula yang mengatakan bahwa “GAMA” berarti “tuntunan” (Jirhanuddin, 2010: 1). Oleh sebab itu bahwa agama memang ajaran ajarannya menjadi tuntunan hidup bagi pemeluknya.
            Berikut juga dari kacamata terminologi, bahwa “agama” dalam bahawa Arab dikenal dengan istilah “din” (Ad Diin). Kata “din” (Ad Diin) berarti: Adat kebiasaan atau tingkah laku, balasan, taat, patuh dan tunduk kepada Tuhan, hokum hokum atau peraturan peraturan (Jirhanuddin, 2010: 2).
            Kata “agama” selain istilah “din”, dikenal juga dengan istilah “Religi” (bahasa Latin). Kata religi berasal dari kata “Relegere” yang berarti “mengumpulkan, membaca”. Jadi “agama” memang merupakan kumpulan cara cara mengabdi kepada Tuhan. Namun ada yang berpendapat bahwa “Religi” itu berasal dari kata “religare” yang berarti “mengikat”. Oleh sebab itu, ajaran ajaran agama memang mempunyai sifat yang mengikat bagi manusia dengan Tuhan  (Jirhanuddin, 2010: 2).
            Lebih dari itu, pengertian “agama” secara terminology juga diberikan oleh beberapa ahli, seperti:
E. B. Tylor mengatakan: Religion is belief in spiritual being (Indonesia: Agama adalah kepercayaan terhadap kekuatan Gaib).
Prof. Leuba mendefinisikan “agama” sebagai peraturan Ilahi yang mendorong manusia berakal untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, oleh karena “agama” diturunkan oleh Tuhan kepada manusia adalah untuk kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat (M Arifin, 1998: 7).
            Dari beberapa pengertian tentang “agama” di atas, dapat disimpulkan bahwa “agama” merupakan pedoman hidup bagi umat manusia dalam rangka memperoleh kebahagiaan hidup, baik kehidupan dimensi jangka pendek di dunia maupun pada kehidupan dimensi jangka panjang di akhirat kelak.
            Jadi, secara normantif, bahwa agama apapun pada dasarnya merupakan way of life bagi umat manusia agar dapat hidup teratur, saling menghargai dan menciptakan keharmonisan serta keseimbangan kehidupan dengan alam.

B.Perbandingan Agama

            Berikut pendapat para ahli mengenai pengertian “ilmu perbandingan agama”, sebagai berikut:
            A Mukti Ali mengatakan, bahwa ilmu perbandingan agama adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang berusaha untuk memahami gejala gejala keagamaan dari pada suatu kepercayaan dalam hubungannya dengan agama lain yang meliputi “persamaan” dan “perbedaan”.
            Hasbullah Bakri mengatakan, bahwa “ilmu perbandingan agama” adalah ilmu yang mengajarkan tentang agama agama, baik yang ada penganutnya di Negara kita atau yang tidak ada penganutnya, baik yang disebut agama misionaris ataupun yang disebut dengan bukan agama misionaris.
            Abu Ahmadi menyebutkan bahwa “ilmu perbandingan agama” aadalah ilmu yang mempelajari tentang bermacam macam agama, kepercayaan dan aliran peribadatan yang berkembang pada berbagai bangsa sejak dahulu hingga sekarang ini.
            Dari beberapa pendapat di atas, akhirnya pengajar menyimpulkan bahwa “ilmu perbandingan agama” berusaha mempelajari berbagai macam agama, kepercayaan dan juga meliputi aliran aliran dalam aspek kepercayaan dan peribadatan dari pada agama agama yang dipelajari yang meliputi persamaan dan perbedaan.

C.Ruang Lingkup Ilmu Perbandingan Agama

            Ruang lingkup merupakan kata majemuk yang terdiri dari ruang dan lingkup. Yang disebut ruang berarti sela sela antara dua deret tiang atau sela sela antara empat tiang (di bawah kolong rumah). Sedangkan lingkup adalah berarti luasnya subjek yang tercakup. Jadi, dapat dipahami, bahwa runag lingkup berarti batasan pembahasan atau kajian. Oleh sebab itu, pengertian “ruang lingkup ilmu perbandingan agama” adalah batasan kajian atau pembahasan ilmu perbandingan agama.
            Lebih konkret, A Mukti Ali mengatakan, bahwa ruang lingkup ilmu perbandingan agama adalah:
a.       Perbandingan agama meskipun membicarakan perbandingan, namun ia tidak mengadakan perbandingan benar-salahnya, melainkan yang dibicarakan pada dasarnya sama saja, dalam hal ini harus berdasarkan objektivitas.
b.      Perbandingan agama tidaklah membahas atau membicarakan tentang kebenaran dan ketidak benaran dari pada suatu agama yang ia teliti atau pelajari, dalam hal ini semua agama menurut ilmu ini dinilai sama. Pembahasan tentang kebenaran suatu agama adalah menjadi ruang lingkup pembahasan disiplin ilmu lain seperti teologi atau filsafat agama.
c.       Ilmu perbandingan agama tidak bertujuan untuk member atau menambah keimanan seseorang yang menekuninya, sebab ia bukan teologi. Demikian juga ilmu ini tidak berusaha untuk meyakinkan maksud agama seperti  yang diusahakan oleh penganut agama itu sendiri atau dengan kata lain bahwa orang yang menyelidiki agama agama guna membuat suatu perbandingan, tidaklah berusaha untuk menjadi ulama dalam agama yang dipelajarinya.
d.      Penyelidikan ilmu ini tidak hanya terbatas kepada pengumpulan fakta fakta dan data, namun juga membicarakan secara luas hal hal seperti kitab suci, lembaga agama, dan lain lain.
Jadi, cara yang ditempuh dalam ilmu perbandingan agama adalah mengumpulkan dan mencatat segala kenyataan yang terdapat pada perbagai macam agama yang diselidiki, meliputi studi kitab suci, Gereja, Kuil, Vihara, Klenteng, dan lain sebagainya. Selain itu dipelajari juga bentuk upacara keagamaan, yang dilakukan oleh para pemeluk agama.
            Sedangkan yang dijadikan objek studi “ilmu perbandingan agama” tidak hanya terbatas pada agama agama besar atau agama agama samawi saja, melainkan meliputi semua agama (samawi dan ardhi) yang pernah hidup dan dianut oleh manusia, meskipun hanya bersifat local (agama etnis).
Adapun Agama Samawi adalah agama yang diturunkan (wahyu) dari Tuhan YME (Islam: Allah SWT) melalui malaikat Jibril dan disampaikan oleh Nabi/Rasul yang telah dipilih oleh Allah SWT untuk disebarkan kepada umat manusia.
Ciri-ciri Agama Samawi, yaitu :
  1. Agama ini memiliki kitab suci yang otentik (ajarannya bertahan/asli dari Tuhan)
  2. Mempunyai nabi/rasul yang bertugas menyampaikan dan menjelaskan lebih lanjut dari wahyu yang diterima
  3. Agama samawi /wahyu dapat dipastikan kelahirannya
  4. Ajarannya serba tetap
  5. Kebenerannya adalah universal yaitu berlaku bagi setiap manusia,masa, dan setiap keadaan.
Sedangkan Agama Ardhi adalah agama yang berkembang berdasarkan budaya, daerah, pemikiran seseorang yang kemudian diterima secara global. Serta tidak memiliki kitab suci dan bukan berlandaskan wahyu.
Ciri-ciri Agama Ardhi ,yaitu :
  1. Agama diciptakan oleh tokoh agama
  2. Tidak memiliki kitab suci
  3. Tidak memiliki nabi sebagai penjelas agama ardhi
  4. Berasal dari daerah dan kepercayaan masyarakat
  5. Ajarannya dapat berubah-ubah sesuai dengan perubahan akal pikiran penganutnya
  6. Konsep ketuhanannya yaitu Panthaisme, dinamisme dan animisme.

D.Tujuan Mempelajari Ilmu Perbandingan Agama
            “Ilmu Perbandingan Agama” bertujuan utnuk memberikan kemungkinan bagi seseorang yang melibatkan diri dalam studi agama untuk memiliki pandangan yang sempurna tentang maksud dan arti pengalaman keagamaan dan ekspresi ekspresi semacam akibat yang bias ditimbulkan (Jirhanuddin, 2010: 10). Oleh sebab itu, keikut sertaan seseorang dalam suatu upacara keagamaan yang diselidikinya tidaklah merupakan jaminan bagi keberhasilan dalam usaha memahami agama tersebut. Karena, meskipun seseorang terbibat dalam suatu upacara keagamaan, namun ia sendiri tidak menghayati pengertian yang dilakukannya.
            Usaha untuk mempelajari dan memahami suatu agama yang dianut orang lain bisa saja dilakukan dengan cara mengetahui bermacam fakta dari agama yang dipelajari. Untuk itu harus mengumpulkan dan menyusun segama informasi yang diperoleh.
            Bertolak dari hal di atas, maka dapat dipahami bahwa tujuan mempelajari ilmu perbandingan agama, antara lain:
a.       Dapat menimbulkan tenaga dan pikiran untuk membandingkan ajaran ajaran setiap agama, kepercayaan, dan aliran aliran peribadatan yang ada.
b.      Orang dapat membedakan ajaran ajaran setiap agama, kepercayaan, dan aliran aliran yang berkembang dalam masyarakat, sehingga mudah untuk memahami kehidupan batin, alam pikiran, dan kecenderungan hati pelbagai umat beragama.
c.       Ilmu perbandingan agama tidak memberikan atau menambah keimanan seseorang, yakni orang yang tidak beragama tidak akan memperoleh sesuatu kepercayaan atau keimanan yang sesungguhnya dari ilmu ini (tidak seperti teologi).
Dengan demikian, maka bagi penyelidik, pengkaji ilmu perbandingan agama, tidak mungkin mengamalkan dari doktrin agama yang diselidiki, melainkan hanya melakukan analisis komparasi sampai pada suatu kesimpulan yang meliputi persamaan dan juga perbedaannya.

E.Faedah Mempelajari Ilmu Perbandingan Agama
            Ada beberapa manfaat atau faedah yang dapat diambil dari mempelajari ilmu perbandingan agama, seperti:
a.       Dapat mengetahui kehidupan batin, alam pikiran, dan kecenderungan hati pelbagai umat manusia yang memeluk berbagai macam agama.
b.      Dapat mengetahui sisi persamaan dan perbedaan antara agama satu dengan agama agama lain, sehingga pada akhirnya dapat membuktikan segi segi keistimewaan agama yang dipilihnya.
c.       Dengan memahami berbagai agama, maka dapat mengetahui bahwa agama agama lain yang datang atau yang ada, adalah sebagai penambah pemahaman yang lebih luas, dan lebih penting terhadap agama yang dipilihnya.
d.      Pikiran keagamaan akan lebih matang dan tajam dengan perantaraan mempelajari pelbagai agama dan dengan cara komparatif, maka akan mudah memahami isi dari agama yang dipilihnya.
e.      Dengan dasar agree in disagreement, maka akan lebih mudah untuk bertoleransi dengan orang yang tidak seagama dengan dirinya, sehingga konflik antar umat beragama akan mudah dihindari.
Bertolak dari uraian di atas, maka akan tampak jelas bahwa jasa dan kegunaan serta manfaat “ilmu perbandingan agama” sangatlah luas. Terutama dalam mengembangkan dan memperluas wawasan pemahaman terhadap agama lain selain agama yang dipilihnya, baik berupa pemahaman kehidupan batin, maupun yang berupa alam pikiran yang ditekankan pada pemahaman idea dan juga pemahaman perilakunya. Hal inipun juga disadari bahwa bila digunakan dengan tidak benar dan tidak tepat, maka hasilnya juga akan kurang menguntungkan, bahkan bisa menggoyahkan dan membahayakan pada keyakinannya sendiri.


II. PERBEDAAN ANTARA ILMU PERBANDINGAN AGAMA, TEOLOGI, DAN FILSAFAT AGAMA

A.Perbedaannya
a. Ilmu Perbandingan agama, mempelajari semua aspek dari semua agama dengan seobjektif mungkin, kemudian mengkomparatifkannya sehingga bermuara kepada persamaan dan perbedaan.
            Ilmu perbandingan agama hanya sampai pada mendeskripsikan/ menggambarkan apa adanya, tidak akan berpihak, baik membenarkan atau menyalahkan suatu agama yang dikaji atau diteliti. Jika dalam kajiannya sampai membenarkan dan menyalahkan suatu agama yang diteliti atau dipelajari, maka yang dilakukannya akan berarti sudah melampaui kewenangannya dan memasuki wilayah disiplin ilmu lainnya selain ilmu perbandingan agama.
b. Teologi adalah suatu ilmu yang membahas dasar dasar suatu agama. Istilah teologi mengandung makna yang luas, maka untuk membatasinya, biasanya istilah teologi diikuti dengan salah satu agama, seperti: teologi Kristen, teologi Hindu, teologi Islam, dan lain sebagainya, sehingga dengan pembahasan tersebut, maka pembahasan menjadi terarah pada suatu agama tertentu.
            Jika “ilmu perbandingan agama” hanya mendeskripsikan apa adanya tentang aspek aspek agama yang ditelitinya, maka hal ini teologi akan berbeda. Teologi berupaya menjelaskan dan bisa jadi malah mempertahankan aspek aspek dari ajaran dasar dari agama tertentu yang ditelitinya.
c.Filsafat Agama adalah tidak membahas dasar dasar agama tertentu, tetapi dasar dasar agama pada umumnya. Berbeda dengan teologi yang membahas dasar dasar agama tertentu, misalnya: Kristen, Hindu, Islam, dan lain lainnya.
            Filsafat agama menggunakan dalil dalil akal dalam pembahasannya, sedangkan teologi di samping menggunakan dalil akal, juga menggunakan dalil naqli (hukum tuhan).
            Filsafat mempelajari sesuatu, dimulai dengan ragu,setelah dipelajari secara mendalam baru ia keluar dengan suatu pendapat yang dipercayainya dan dibuktikan kebenarannya. Sedangkan teologi berpangkal pada pengakuan akan dasar dasar keimanan sebagaimana yang tersebut dalam kitab suci dari agamanya kemudian dilanjutkan dengan pembuktian secara logika tentang kebenarannya. Dengan pendek kata, bahwa filsafat laksana seorang hakim yang adil dan tidak akan mempunyai pendapat tertentu terhadap perkara yang dihadapinya sebelum dipelajarinya, dikajinya, dan menelaahnya secara mendalam, setelah itu baru keluar keputusannya. Sedangkan teologi sama dengan sikap seorang pembela setia yang yakin akan kebenaran masalah yang dibelanya. Jadi, filsafat bertolak dari renungan akal pikiran, sedangkan teologi bertolak dari wahyu.

B.Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Ilmu Perbandingan Agama
            Perbandingan agama merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan yang keberadaannya masih tergolong relative muda bila disbanding dengan ilmu social lainnya. Ilmu perbandingan agama lahir dan diakui sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri pada bagian akhir pertengahan abad ke 19.
            Proses perjalanan ilmu perbandingan agama, sampai dengan diakui sebagai ilmu yang berdiri sendiri memang cukup panjang, kenyataan ini dapat ditelusuri dari sejarah perkembangan ilmu yang dimulai sekitar abad ke 5 Sebelum Masehi sudah ada para peneliti yang melakukan penelitian terhadap agama-agama di dunia, namun hasil penyelidikannya dikatakan masih belum sistematis, yakni masih ada yang bersifat subjektif dan cenderung apologis.
            Setidak-tidaknya ada dua pakar dari Eropa yang disebut sebagai “bapak” Ilmu Perbandingan Agama (Jirhanuddin, 2010: 24). Yakni, seorang Belanda C. P. Tiele yang ahli tentang mesir, dan yang kedua adalah Friedrich Max Muller (F. Max Muller) seorang yang lahir di Jerman namun hidup di Inggris ahli tentang filologi.
            Sejarah pertumbuhan dan perkembangan ilmu perbandingan agama, setidak tidaknya dapat dibagi dua bagian, yakni pertama yang keberadaannya di dunia bagian Barat, dan kedua di dunia bagian Timur.
a.Di belahan Dunia Barat
            Di bagian Barat ini sama dengan perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri, yakni: diawali dengan Jaman Yunani yang timbul sekitar abat ke-6 Sebelum Masehi, kemudian dilanjutkan Jaman Pencerahan pada sekitar abad ke 14 Masehi, dan dilanjutkan pada jaman Modern yaitu abad ke-15 dan ke-16 ini sebagai perintis, kemudian dilanjutkan abad ke-17 dan ke-18 Masehi seebagai periode yang semakin luas dan pengkajian terhadap agama agama semakin marak.
            Dalam proses perkembangan selanjutnya “ilmu perbandingan agama” mendapat penghargaan kedudukan akademik. Untuk pertama kali lembaga pendidikan yang mengadakan jabatan dosen dalam Ilmu Perbandingan Agama adalah Universitas Geneva, Swiss pada tahun 1873. Dan berikutnya di Universitas Zurich membentuk jabatan dosen dalam matakuliah History of Religions and Biblical Geography.
            Tidak beberapa lama berselang “Ilmu Perbandingan Agama” juga menyebar ke negari Belanda yakni pada tahun 1877 Masehi, dan selanjutnya.  Melalui proses yang begitu panjang akhirnya “Ilmu Perbandingan Agama” diakui sebagai ilmu yang berdiri sendiri sebagaimana ilmu ilmu social yang lain sampai dengan pertengahan abad ke-19 Masehi (Jirhanuddin, 2010: 30). Demikian secara garis besar pertumbuhan dan perkembangan “Ilmu Perbandingan Agama” di belahan dunia Barat.
b.Di belahan dunia Timur
            Perkembangan “Ilmu Perbandingan Agama” di belahan Dunia Timur juga banyak ditulis para ahlinya, seperti: Muhammad Abd. Karim Al Syahrastani dari Persia pada tahun 1071-1143. Ia membagi agama menjadi: 1. Islam; 2. Agama Yahudi dan Kristen; 3. Agama Yang Mendapat Wahyu tapi tidak termasuk ahli kitab; 4. Agama menurut pemikiran dan ahli filsafat.
            Kemudian bila dibandingkan tentang perkembangan “Ilmu Perbandingan Agama” di dunia Barat dan di dunia Timur, maka dapat dikatakan bahwa pertumbuhannya di belahan dunia Barat lebih maju bila dibandingkan dengan perkembangannya di belahan dunia Timur. Adapun factor sebagai penyebab “ilmu perbandingan agama” di belahan dunia Barat lebih maju adalah:
1). Di Barat para pemikirnya lebih banyak, sehingga mudah untuk mengkoordinir tenaga.
2). Didukung oleh dana yang memadai, sehingga mempermudah untuk melakukan penelitian terhadap bermacam macam agama yang ada.
            Sedangkan yang menyebabkan di belahan dunia Timur kurang maju perkembangannya adalah:
1). Keterbatan sumber daya manusianya.
2). Pada abad ke-18 di belahan dunia Timur dilanda oleh kolonialisme dan imperalisme, sehingga tenaga, pikiran, biaya, dan perhatiannya banyak tercurah untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan Barat (Jirhanuddin, 2010: 33).

III. KERUKUNAN HIDUP UMAT BERAGAMA

            Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa, kebudayaan, dan agama. Di Negara ini ada berbagai macam agama yang diakui dan dijamin oleh pemerintah mengenai pertumbuhan dan perkembangannya. Indonesia termasuk masyarakat yang majemuk mengenai keberagamannya, keadaan yang demikian hendaklah antar satu dengan lainnya dapat memahami dan menghormati keyakinan dari masing masing pemeluk agama dan kepercayaannya. Hal ini dirasa sangat penting dalam upaya pembangunan di segala bidang,termasuk membangun keharmonisan kehidupan beragama.
            Terciptanya kerukunan antar umat beragama di muka bumi ini pada prinsipnya semua agama menganjurkan, termasuk anjuran dari agama agama yang ada di Indonesia ini. Saling hormat-menghormati antar pemeluk agama menjadi perhatian bagi pemimpin agama, sikap mereka juga atas dasar dari ajaran agama-agamanya, sehingga dalam pandangan mereka bahwa keaneka-ragaman merupakan sesuatu yang mutlak untuk dihormati.
            Indonesia dikenal sebagai bangsa yang pluralistic, sehingga sosok keberagaman yang indah dengan latar belakang yang memiliki nuansa spesifik masing masing, tidak mengurangi makna rasa kesatuan Indonesia. Bhinneka Tinggal Ika yang dipakai oleh bangsa Indonesia, jelas dan nyata mempertegas pengakuan adanya kesatuan dalam keagamaan dan keberagaman dalam kesatuan kehidupan kebangsaan Indonesia.

A.Sejarah Kerukunan Hidup Beragama
            Dalam buku yang memuat Peraturan Perundang-Undangan Kerukunan Hidup Umat Beragama, dijelaskan bahwa “adanya kerukunan antar golongan beragama adalah merupakan syarat mutlak bagi terwujudnya stabilitas politik dan ekonomi yang menjadi program pemerintah”. Oleh sebab itu, diharapkan adanya kerja sama antara Pemerintah dengan masyarakat beragama, sehingga tuntutan hati nurani rakyat dan cita cita bersama yang ingin mewujudkan masyarakat adil dan makmur dengan dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa benar benar dapat terwujud.
            Kerukunan berasal dari kata atau istilah “rukun”, yang dalam kamus Bahasa Indonesia artinya adalah: perihal (keadaan) hidup rukun atau perkumpulan yang berdasarkan tolong menolong dan persahabatan (WJS. Poerwadarminta, 1980:206). Secara etimolgis, kata “kerukunan” pada mulanya adalah dari bahasa Arab, yakni “rukun” yang berarti tiang, dasar, atau sila. Jamak  rukun adalah arkaan, dan dari kata arkaan lalu diperoleh pengertian, yakni: bahwa kerukunan merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari berbagai unsure yang berlainan dari setiap unsur tersebut saling menguatkan.
            Jadi, kesatuan tidak dapat terwujud bila di antara unsure tersebut yang tidak saling berfungsi. Sedangkan yang dimaksud kehidupan beragama adalah terjadinya hubungan yang baik antara penganut agama yang satu dengan yang lainnya dalam satu pergaulan dan kehidupan beragama, dengan cara saling memelihara, saling menjaga, dan saling menghindari hal hal yang dapat menimbulkan kerugian atau menyinggung perasaan. Dalam pengertian sehari-hari, bahwa rukun dan kerukunan adalah damai dan kedamaian. Dari pengertian ini jelas bahwa kata kerukunan hanya dipergunakan dan berlaku dalam dunia pergaulan.
            Dengan pendek kata, bahwa yang dimaksud dengan “kerukunan hidup beragama”, adalah terjadinya hubungan yang baik antara penganut agama yang satu dengan yang lainnya dalam satu pergaulan dan kehidupan beragama, dengan cara saling menghormati, saling memelihara, saling menjaga, dan saling menghindari hal hal yang dapat menimbulkan kerugian atau menyinggung keyakinan di antara pemeluk agama atau keyakinan tersebut.

B.Tujuan Kerukunan Hidup Beragama
            Pemerintah berupaya untuk mewujudkan kerukunan hidup beragama dan kerukunan hidup antar agama, dengan harapan bahwa bangsa ini dapat melangsungkan kehidupannya dengan baik. Adapun tujuan kerukunan hidup beragama dan antar umat beragama, adalah:
1). Untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan keberagamaan masing masing pemeluk agama.
2). Untuk mewujudkan stabilitas nasional yang mantap.
3). Meninjang dan mensukseskan pembangunan mental dan moral bangsa.
4). Memelihara dan memperarat rasa persaudaraan.

C.Bentuk Kerukunan Hidup Beragama
            Pemerintah RI telah memprogramkan kerukunan hidup umat beragama melalui Kementerian Agama, yakni yang disebut “Tri Kerukunan Umat Beragama” yang isinya adalah:
Pertama, kerukunan intern umat beragama.
Kedua, kerukunan antar umat beragama.
Ketiga, kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah.

D.Kerukunan Dalam Beberapa Agama
            Kerukunan dalam beberapa agama akan lebih kongkrit adalah terealisasi dalam bentuk, seperti:
a.Toleransi, yakni suatu kata yang berasal dari bahasa Arab yang bunyinya “tasamuh”, yang artinya bermurah hati dalam pergaulan.
            Menurut Webster a New Dictionary, bahwa arti toleransi adalah: liberality the opinion of other spatience with other (Indonesia: memberikan kebebasan atau membiarkan terhadap pendapat orang lain dan berlaku sabar menghadapi orang lain).
            Sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia oleh WJS. Poerwodarminto, mengartikan kata “toleransi” artinya kelapangan dada, yakni: berupa suka rukun kepada siapapun, membiarkan orang lain berpendapat atau berpendirian lain, tidak mau mengganggu kebebasan berpikir dan keyakinan orang lain (WJS. Poerwadarminta, 1980:409).
b.Kerukunan, yakni berarti “damai”, adalah damai dengan sesama manusia dan juga dengan makhluk lainnya. Kerukunan dalam agama Hindu, dikatakan bahwa untuk mencapai kerukunan hidup antar umat beragama, manusia harus mempunyai dasar hidup yang dalam agama Hindu disebut dengan CATUR PURUSA ARTHA, yang mencakup Dharma, Artha, Kama, dan Moksha (Hadiwiyono, Harun, 1978: 141)


DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi, 1991, Perbandingan Agama, Jakarta, Rineka Cipta

Ali, Mukti A, 1992, Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia, Bandung, Mirzan

Arifin, M, 1998, Menguak Misteri Ajaran agama-agama Besar, Jakarta, Golden Terayon Press

Jirhanuddin, 2010, Perbandingan Agama (Pengantar Studi Memahami Agama-agama), Yogyakarta, Penerbit Pustaka Pelajar

Poerwadarminta, WJS., 1980, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka

Hadiwiyono, Harun, 1978, Agama Hindu dan Budha, Jakarta, Gunung Mulia