Jumat, 19 September 2014

Filsafat Timur



FILSAFAT TIMUR (TIONGKOK)

Oleh : Drs. Sudadi, M.Hum.

A. Pendahuluan

1. Latar Belakang Timbulnya Filsafat Tiongkok
Pada abad ke-20 s. M. Di lembah sungai Kuning ada kerajaan. Rajanya bernama Chieh yang lalim dan bijak sana, memerintah pada jaman dinasti Hsia. Kemudian diserang oleh raja T’ang, dan menyerah pada raja T’ang. Ini terjadi pada kira-kira abad ke-18/ th. 1765 s. M. T’ang kemudian berkuasa lalu mendirikan dinasti baru, yaitu dinasti Shang. Dinasti Shang memerintah selama 13 generasi, yaitu sejak berdiri sampai diruntuhkan oleh dinasti Chou pada th. 1122 s. M. Sejak mulai memerintah, dinasti Chou mulai menguasai kerajaan dalam waktu relatif lama. Namun perlu diketahui, bahwa dalam keberhasilannya menguasai kerajaan dan dinastinya mulai kuat, pucuk pimpinan dinasti Chou, yaitu raja Wu Wang meninggal dunia. Sedangkan saat itu putra mahkotanya yang bernama Raja Chou masih kecil, namun tetap harus ada kebijaksanaan untuk kelanjutan dinastinya. Oleh sebab itu, adik raja Wu Wang yang bernama Pangeran Chou mengambil alih sebagai pucuk pimpinan dinasti Chou.Pangeran Chou dalam mengendalikan roda pemerintahan bersifat tegas, kejam dan sangat adil, sebab setelah meninggalnya raja Wu Wang, para warganya saling berperang untuk berebut kekuasaan, sehingga keadaan menjadi kacau dan tidak tentram.
Namun setelah keadaan yang kacau itu dapat diatasi, Pangeran Chou mulai bertindak lunak kembali. Pangeran Chou memang orang yang agung dan mulia, karena setelah beberapa tahun memerintah dengn baik dan bijaksana sehingga keadaan menjadi tenteram kembali, kemudian pemerintahannya dikembalikan kepada kemenakannya yang bernama Raja Chou.Raja Chou memerintah kerajaan yang wilayahnya sangat luas, oleh sebab itu dalam mengawasi daerahnya, maka dibaginya beberapa bagian yang masing masing bagian diserahkan kepada seseorang untuk mengawasinya dan mereka berkedudukan sebagai Wali Negeri.
            Pada awalnya para Wali Negeri itu patuh pada Raja Chou, namun dalam perkembangan selanjutnya, keadaan tidak menguntungkan bagi kerajaan yang besar itu. Para Wali Negeri yang semula mematuhi pemerintah pusat, akhirnya tidak menghiraukan lagi dan diperkuat oleh dukungan rakyatnya, bahkan pada tahun 770 s. M. Raja chou dikalahkan dan diusir dipaksa meninggalkan kerajaannya yang berada di lembah sungai Kuning itu. Kemudian Raja Chou mendirikan tempat tinggal sendiri di Lo Yang, yaitu daerah masih masuk wilayah Honan, letaknya tidak jauh dari sungai Kuning. Para Wali Negeri tersebut saling mendapat dukungan dari masing masing rakyatnya dan menjadi kuat sehingga saling ingin menguasai. Pada akhirnya timbullah peperangan di antara mereka.
Sebagai akibat peperangan itu, rakyatlah yang menderita. Bukan saja rakyat jelata, namun juga kaum ningrat/ bangsawan banyak yang kehilangan kedudukan dan kebangsawanannya. Keadaan tidak terjamin, ekonomi morat marit, dan hukum diinjak injak. Oleh sebab itu para ahli pikir Tiongkok ingin memperbaiki keadaan yang menyedihkan itu agar menjadi tentram, hukum dan moral dijunjung tinggi, agar rakyat tidak dihantui peperangan. Para ahli pikir itulah yang berjuang dengan hasil pemikirannya, sehingga rakyat tenang, dan inilah titik awal timbulnya filsafat Tiongkok.

2. Karakteristik Filsafat Tiongkok
a. Antroposentris atau humanistis.
Yaitu keinginan untuk menemukan sumber kriteria kebaikan, kebenaran, dan keindahan dalam diri manusia. Oleh karena itu merupakan keyakinan bahwa setiap manusia harus memilih untuk dirinya sendiri dalam kebaikan, kebenaran, dan keindahan seprti halnya tentang selera manusia. Jadi karakter yang humanistis ini artinya bahwa manusia adalah titik sentral dari segala galanya. Bertolak dari karakternya itu, maka para filsuf Tiongkok selalu berusaha mengemukakan konsep-konsepnya dalam upaya memenuhi kebutuhan manusia, terutama kebutuhan akan kebahagiaan. Misalnya dianjurkan agar manusia selalu dapat mengembangkan sifat-sifat kemanusiaan yang luhur dan memiliki sikap setia kawan antar sesama manusia.
b. Naturalistis.
Artinya bahwa manusia akibat pengaruh sifatnya yang humanistis, maka kehidupannya makin cenderung pada sikap kejiwaan yang jauh dari hal hal adikodrati. Oleh sebab itu manusia merasa puas bila sudah dapat menyelaraskan kehidupannya dengan alam semesta, sehingga akan selalu berusaha menyesuaikan diri dengan hukum hukum alam, seperti para petani, nelayan, petapa, dll. Jadi kehidupan saat ini nampaknya kelestarian alam semesta & lingkungannya menjadi tuntutan yang besar, agar manusia selalu merasa nyaman.
c. This worldly, yaitu kekinian.
Artinya, bahwa manusia dalam hidup saat ini merupakan suatu kebahagiaan tersendiri, sehingga perlu mendapat perhatian yang khusus. Oleh sebab itu filsafat Cina tidak menekankan kehidupan nanti (other worldly). Aspek positif dari this worldly, yaitu dapat mempengaruhi proses berpikir manusia untuk bertindak realistis dan memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien. Sedang aspek negatifnya, manusia cenderung materialistis yang kurang memperhatikan nilai spiritual.
d. Sifat toleran.
Artinya bahwa dalam filsafat Tiongkok ditekankan manusia harus saling menghormati dan memaklumi serta saling menghargai sesama manusia. Sifat ini dapat dikembangkan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti menghargai antar sesama manusia.Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya aliran filsafat yang muncul, meskipun aliran aliran itu ada bedanya namun karena saling menghormati, maka berbagai aliran yang ada tetap eksis dan masing masing tetap berkembang sesuai dengan hakekat masing masing.
e. Demokratis.
Artinya bahwa filsafat Tiongkok dapat menempatkan harkat dan martabat manusia dalam kedudukan yang sama. Contohnya, Konfusius memberikan kesempatan pada murid-muridnya untuk penelitian dan percobaan mandiri. Di samping itu, ia juga mengajarkan bahwa seorang pendidik yang baik, tidak boleh mendektekan kebenaran pada muridnya, bahkan murid diberi kesempatan untuk berpikir mandiri dan mencari penemuan penemuan baru.Oleh sebab itu bila ada beda pendapat dengan yang diajarkan, murid boleh debat dan bila perlu dideskusikan. Jadi, dalam hal ini diperlukan kedewasaan dalam sikap maupun cara berpikir.
e. Pragmatis.
Artinya, bahwa filsafat Tiongkok mempunyai kecenderungan untuk mengukur segala sesuatu dengan nilai praktis. Hal ini ditemukan dalam filsafat Konfusius dan Mo Tzu yang berupa ajaran tentang perbaikan masyarakat dan negara. Sifat pragmatis membawa dua aspek, yaitu aspek positif dan aspek negatif. Aspek positifnya, akan menjadikan manusia hemat dan bertindak hati hati. Sedang aspek negatifnya, manusia hanya akan mau melakukan perbuatan bila tindakannya akan mendatangkan keuntungan khususnya bagi dirinya sendiri, dan ada kecenderungan untuk mengelak terhadap tugas atau kewajiban yang memerlukan pengorbanan terutama materi. Jadi, sifat pragmatis ini akan menjadi baik, bila selalu dikaitkan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
g. Keinginan untuk tahu segalanya.
Artinya bahwa filsafat Tiongkok tidak beda dengan filsafat pada umumnya yang selalu ingin tahu segala sesuatu. Hal ini dapat dilihat dalam filsafat Konfuisus yang selalu menekankan pada murid2nya agar selalu mencari hal yang baru, yang belum pernah diketahui, yaitu agar mendengar banyak tentang segala persoalan, dan tentang kebenaran harus dapat diterima oleh akal manusia. Jadi, Konfusius selalu menekankan pada kemampuan akal manusia. Karakteristik filsafat Tiongkok yang demikian ini merupakan langkah awal dalam mencapai kebahagiaan umat manusia. Hal ini hendaknya harus diikuti dengan tindakan tindakan berikutnya, seperti perluasan pengetahuan, ketulusan hati, penertiban batin, pengembangan hidup pribadi, pengaturan hidup keluarga, pengaturan hidup bermasyarakat, ketertiban bangsa, dan perdamaian dunia.
h. Filial piety dan loyalty.
Artinya bahwa filsafat Tiongkok mempunyai sifat berupa sikap hormat dan patuh kepada orang tua.
Sifat ini juga merupakan kejiwaan bagi orang Cina. Hal ini dapat dilihat dalam ajarannya yang menyatakan kedurhakaan anak terhadap orang tuanya adalah tindakan yang amat tercela, demikian pula orang tua juga harus berlaku baik terhadap anaknya, kakak terhadap adiknya, istri terhadap suami, dan suami terhadap istrinya. Filial piety juga merupakan salah satu konsep etika yang dominan dalam filsafat Tiongkok, terutama dalam hubungan kekeluargaan. Konfusius mengatakan bahwa praktek filial piety perlu disertai dengan penuh penghayatan agar bermakna dan dapat memperluas budi pekerti manusia.  Jadi, filial piety memebrikan kejelasan bagi kesadaran untuk kemudian dijadikan jembatan yang menghubungkan antara prinsip prinsip ajaran filsafat khususnya moral dengan tindakan manusia sehari-hari.
i. Harmoni.
Artinya bahwa filsafat Tiongkok selalu menekankan unruk  menjaga keseimbangan terhadap segalanya agar dapat hidup bahagia. Sifat harmoni ditemukan dalam ajaran Yin-yang, yaitu berupa ajaran bahwa alam semesta pada dasarnya terdapat dua prinsip, yaitu prinsip negatif adalah yin, dan prinsip positif adalah yang. Keduanya merupakan dau hal yang berbeda satu dengan yang lain, namun tidak perlu dipertentangkan, karena antara satu dengan yang lainnya saling membutuhkan dan saling melengkapi. Dalam sifat harmoni, juga diajarkan bahwa seluruh aspek kehidupan di alam semesta senantiasa berada dalam hukum keseimbangan. Jadi, hal yang sepintas tampak berbeda bahkan berlawanan, pada dasarnya saling melengkapi dalam keadaan yang seimbang. Oleh sebab itu, setiap individu diharapkan selalu menjaga keseimbangan, agar mendapatkan kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan manusia secara lahiriah, maka perlu diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan spiritual.

3. Perbedaan antara Filsafat Timur (Tiongkok) dan Filsafat Barat

Filsafat Timur (Tiongkok)
1. Etika merupakan pusatnya.
2. Tingkah laku dan sikap manusia terhadap dunia sekitar merupakan kesatuan yang selaras dan seimbang, sebagai mikro kosmos dan makro kosmos.
3. Manusia harus menyesuaikan diri dengan kodrat alam, sehingga harus harmoni hubungan manusia dengan dunia .

Filsafat Barat
1. Rasio merupakan pusatnya
2. Manusia menempatkan diri berhadapan dengan objek yang dipelajari, sehinga manusia berpikir dengan pertanyaan, seperti apa sebab terjadi peristiwa itu ?, Bagaimana peristiwa itu ?, Dari mana datangnya ?, dll.
3. Ontologi, yaitu ilmu tentang sebab sebab yang pertama menduduki tempat sentral.

B. Periodisasi Filsafat Timur (Tiongkok).

1). Jaman Kuno (600 – 200 S. M).
2). Jaman Pembauran (Th. 200 S. M – 1000 M.).
3). Jaman Neo Konfusianisme (Th. 1000 – 1900 M).
4). Jaman Modern (Th. 1900 – Sekarang).

Ad. 1). Jaman Kuno (Th. 600 – 200 S. M.)
Jaman ini ditandai dengan munculnya aliran-aliran klasik, seperti:
Aliran Konfusianisme,
yaitu aliran yang terdiri dari orang-orang terpelajar waktu itu, yang mempunyai keahlian di bidang kitab kitab klasik, sehingga ajarannya juga bersumber pada kitab kitab klasik itu, dan kitab kitabnya diklasifikasikan dalam bidang:
a. Bidang Metafisika
b. Bidang Etika.

Kitab-kitab klasik yang dianggap penting ada 5, dan disebut dengan nama Wu Ching Chiang, yaitu:
(1). Shu Ching berupa kitab Sejarah
(2). Shih Ching berupa kitab Syair
(3). I Ching berupa kitab perubahan
(4). Li Chi berupa kitab Adat
(5). Ch’un Ch’iu berupa catatan musim semi dan musim gugur.

Selain kitab kitab klasik disebutkan di atas, masih ada kitab klasik lain yang juga sebagai sumber Filsafat Tiongkok, seperti:
(1). Kitab Lun Yu, yaitu tentang Analects: Bunga Rampai Konfusius.
(2). Kitab Meng Tze, yaitu tentang Mensius.
(3). Kitab Ta Hsueh, yaitu tentang The Great Learning.
(4). Kitab Chung Yung, yaitu tentang The Doctrin of Mean.

a. Bidang Metafisika Dari Kitab Kitab Klasik yaitu:
Pada bidang Metafisika isinya adalah tentang:
(a). Tuhan
(b). Manusia.
Konsep tentang Tuhan, yaitu terdapat dalam The Analects lebih dikenal dengan istilah T’ien (Indonesia: Tuhan sebagai faktor spiritual utama dalam keagamaan). Dalam Ju Chiao konsep tentang T’ien perlu mendapat perhatian khusus. Namun perlu diketahui bahwa konsep T’ien dalam Ju Chiao tidak sama persis dengan idea dari agama atau kepercayaan, seperti Islam, Hindu, Budha, dll. Karena konsep tentang T’ien ada terkandung idea Universal, yaitu sebagai pencipta dan asal mula dari segala yang ada dan yang terjadi di dunia ini. .
Dalam ajaran T’ien Ming (Inggris: Madate of Heaven), dinyatakan bahwa T’ien memberikan kekuasaan suatu negara kepada orang yang dipilihnya, yaitu orang yang dianggap mampu untuk memimpin suatu negara. Oleh sebab itu mereka yang terpilih harus bertindak sesuai dengan kehendak T’ien, dan bila bertindak tidak sesuai dengan kehendak T’ien, maka T’ien akan segera mencabut mandate yang telah diberikan.
Konfusius salah satu tokoh aliran Konfusianisme mengatakan bahwa T’ien adalah penguasa personal, yang dapat memberikan tugas dan tanggung jawab kepada manusia. Jadi, apabila manusia mengalami sukses, maka itu sebenarnya telah diatur oleh T’ien. Namun bila manusia gagal dalam usahanya pun harus menyadari bahwa itu memang sudah diatur oleh T’ien. Dengan demikian pengarauh ajaran T’ien Ming sangat terasa, sehingga bila setiap ada pemerintahan baru yang berkuasa selalu mendasarkan diri pada ajaran T’ien Ming. Ajarannya tentang manusia, yaitu yang dalam aliran Konfusianisme, diajarkan oleh tokoh yang tidak asing lagi, seperti Mensius dan Hsun Tzu. Bagi Mensius, bahwa manusia pada intinya mempunyai dasar yang kodratnya baik sejak lahir. (akan dibicarakan sendiri di halaman lain). Sedangkan bagi Hsun Tzu mengatakan bahwa pada dasarnya manusia itu memiliki pembawaan yang jahat.

b. Bidang Etika dari Kitab Klasik
Ajaran tentang etika dalam aliran Konfusianisme, dapat dikelompokkan  menjadi dua (2), yaitu:
a). Ajaran tentang Etika Pribadi.
b). Ajaran tentang Etika Sosial.

Ad. a). Ajaran etika pribadi meliputi yaitu:
Ajaran yi (kelayakan), li (sopan santun), ch’i (kebijaksanaan), dan tao (jalan).
Ad. b). Ajaran tentang etika sosial tercermin yaitu:
Dalam ajaran tentang jen (perikemanusiaan), hsiao (bakti anak terhadap orang tua), dan wu lun (hubungan kemanusiaan). Konfusianisme dalam ajarannya tentang jen, mengatakan bahwa jen merupakan suatu proses dari perkembangan nilai nilai spiritual. Jadi jen menurutnya adalah merupakan rasa kemanusiaan pribadi yang dimiliki oleh setiap manusia. Dalam The Analects disebutkan bahwa jen merupakan karakteristik yang fundamental dari keteraturan segala sesuatu yang ada, yang akan tercermin dalam tingkah laku perbuatan manusia

Jen terdiri dari dua (2) unsur, sbb.:
 (1). Shu  Timbal-balik (Jawa: tepo sliro)  (reciprocity)
(2). Chung   Kesetiaan   Tanpa pamrih   (loyalty)
Jadi manusia melakukan perbuatan demi perbuatan itu sendiri. Atau perbuatan itu memang layak bagi yi (kelayakan). Yi adalah suatu keharusan yang ada dalam diri manusia untuk melakukan perbuatan tanpa ada syarat tertentu.Yi merupakan alat pengarah/ pedoman tindakan manusia yang berasal dari dalam diri manusia sendiri. Pelaksanaan jen akan dapat memperoleh manfaat bila didasarkan pada li (sopan-santun).
Li adalah faktor utama dalam pembentukan chun tzu (budi pekerti yang luhur). Manusia dengan melaksanakan li secara tertib, maka manusia akan menemukan sikap hidupnya.
Jadi pelakasanaan jen dan li merupakan manifestasi hidup manusia yang diajarkan dengan hsiao (filial piety)
Artinya, hormat dan patuh terhadap orang tua atau berbakti terhadap orang tua.
Ajaran jen dan li itu hanya dapat diamalkan dengan baik, bila memahami Tao, yaitu jalan yang harus ditempuh manusia karena sebagai kode etik individu.

Tokoh aliran Konfusianisme, yaitu:
1. Konfusius.

a. Riwayat hidupnya
Ia lahir 551 Seb. M. di bagian Propinsi Shantung. Sumber riwayat Konfusius adalah buku LUN-YU (artinya: pembicaraan-pembicaraan). Sumber ini ditulis oleh sejarawan Tiongkok bernama: Sse-ma Isy’ien, kira-kira tahun 375 Seb. M. Dan tentang tanggal kelahiran dan kematiannya tidak diketahui, hanya hidupnya dari tahun 551 s/d. 479 Seb. M. Konfusius adalah nama latin dari nama K’ung Fu Tse, dan biasa dipanggil dengan nama: guru K’ung.Konfusius nama kecilnya adalah Tsy’ dan setelah menginjak dewasa diberi nama: Tsyung-ni. Konfusius keturnan bangsawan tapi miskin, yang tinggal di negara Lu yang sekarang disebut Syantung. Ia ditinggal ayahnya ketika masih kecil. Dalam buku Lun-yu ditulis: “Ketika saya masih muda, saya hidup dalam keadaan yang sederhana, oleh karena itu saya banyak memperoleh kecakapan”. Ia menikah umur 19 tahun dan mempunyai dua orang anak laki-laki tapi tidak sepandai ayahnya. Pada waktu umur 22 tahun, Konfusius mendirikan sekolah, dan dalam relatif singkat lalu banyak muridnya. Pada umur 51 tahun, Konfusius diangkat menjadi Gubernur di kota Tsyung. Karena keberhasilan sebagai Gubernur, dalam waktu yang relatif singkat lalu diangkat jadi Menteri. Setelah jadi Menteri kemudian ia mengembara yang ditemani oleh 2 orang teman setianya, yaitu Yenhwei Tzekung dan Tzelu. Setelah mengembara kemudian kembali ke negara Lu, dan mendirikan sebuah mazab hingga meninggalnya. Pada waktu umur 22 tahun, Konfusius mendirikan sekolah, dan dalam relatif singkat lalu banyak muridnya. Pada umur 51 tahun, Konfusius diangkat menjadi Gubernur di kota Tsyung. Karena keberhasilan sebagai Gubernur, dalam waktu yang relatif singkat lalu diangkat jadi Menteri. Setelah jadi Menteri kemudian ia mengembara yang ditemani oleh 2 orang teman setianya, yaitu Yenhwei Tzekung dan Tzelu. Setelah mengembara kemudian kembali ke negara Lu, dan mendirikan sebuah mazab hingga meninggalnya pada usia 73 tahun pada usia 73 tahun.

b. Konfusius sebagai pembaharu sosial yang Konservatif.
Ia sebagai pembaharu sosial, bukan guru agama, tapi tentang agama dianggapnya perlu, meskipun ia tak pernah membicarakannya. Tzelu murid Konfusius pernah bertanya kepadanya tentang pemujaan roh-roh. Konfusius menjawab: “jikalau kamu belum dapat mengabdi kepada seseorang sebagai manusia, bagaimana kiranya kamu akan dapat mengabdinya sebagai roh”.
Tzelu bertanya lagi: “bolehkah kiranya bertanya tentang maut”.
Konfusius menjawab: “jikalau kamu belum mengenal tentang soal hidup, bagaimana kamu akan mengetahui tentang maut”.
Jadi bagi Konfusius yang penting rituil yang tidak saja penguasaan keagamaan, melainkan penghidupan sosial.
Konfusius menentang perubahan sosial yang hanya berubah tanpa pembaharuan, sebab yang dikehendaki adalah pembaharuan sosial.
Misalnya: tercermin dalam buku I Ching (tentang: the book of changes), dan The Book of Mencius.
Karena menurut Konfusius, bahwa perubahan tanpa pembaharuan adalah suatu kemunduran. Baginya yang dimaksud pembaharuan, yaitu mengubah keadaan hingga batas-batas hak dan kewajiban perseorangan menjadi terang, dan status orang sesuai dengan yang telah dikodratkan oleh alam.
Konfusius hal di atas adalah: “membenarkan nama-nama”.
Artinya, bahwa hendaknya ada persesuaian antara kedudukan dan sikap seseorang.
Terkenal dengan ucapan Cina, yaitu: “Tsjuun tsjuun tsje’n tsje’n, fu fu, tze tze”.
Artinya: hendaknya raja tetap raja, hamba tetap hamba, ayah tetap ayah, dan anak tetap anak.
Jadi menurut Knonfusius, jika tiap-tiap nama sesuai dengan kenyataannya, maka lalu terjamin tentang “perbandingan yang seharusnya” antara atas dan bawah, lalu tentu ada pemerintahan yang baik.
“Perbandingan yang seharusnya” ini dinamakan “i”.
Meskipun yang biasanya “i” diartikan dengan “keadilan”, namun terjemahan itu tidak memuaskan dalam tulisan-tulisan berikutnya. Karena “i” dapat diganti dengan pengertian “keinsyafan akan kewajiban”. Jadi perkataan “i” berhubungan dengan “li” (sopan-santun).

c. Istilah i, li, dan te.
Kata-kata yang banyak dipakai oleh Konfusius adalah “te” (arti: kebajikan). Istilah “te” ini menurut Konfusius hanya dapat diperoleh secara turun-temurun, namun tidak secara otomatis, karena harus menepati upacara-upacara keagamaan pada waktu yang seharusnya. Jadi, “te” adalah sifat khusus seseorang dalam statusnya, yang ditentukan oleh “i”, dan ditunjukkan dengan bentuk “li”. Semula arti “te” hanya “kebajikan” pada umumnya, namun kemudian Konfusius memperluas artinya menjadi “membenarkan nama-nama”, hingga memungkinkan tiap orang melakukan “i” nya, dan mengindahkan “li” nya, untuk dapat melaksanakan tata-susila dan ketertiban alam. Oleh sebab itu Sang Raja hendaknya menjalankan “te” nya, supaya dapat memancarkan pengaruhnya, sehingga merubah keadaan. Kekuasaan raja berakar pada sifat mythisch magisch yang hanya dimilki oleh sang Raja dimaksud. Dengan demikian barang siapa memerintah berdasarkan kebajikan (te), maka dapat diibaratkan sebagai bintang kutub, yang tepat pada tempatnya dan bintang-bintang lain tunduk kepadanya. Sehingga dapat dianalogikan, bahwa “kebajikan raja sama dengan angin, kebajikan rakyat biasa sama dengan rumput. Oleh sebab itu, “rumput akan tunduk kalau angin menyentuhnya”. Jadi ‘te” oleh Konfuisus diartikan “kebajikan”, maksudnya adalah kesusilaan yang ditujukan kepada Raja, orang-orang bangsawan, dan kemudian kepada siapa saja.

d. Ajaran tentang “jen”.
Tzekung bertanya pada Konfusius, yaitu “Apakah suatu perkataan yang dapat menuntun manusia di dalam penghidupan manusia seterusnya ?”. Konfusius menjawab, “Pertimbangkanlah selalu keadaan orang lain. Janganlah melakukan hal sesuatu terhadap orang lain, yang tidak kamu inginkan sendiri. Inilah jen”. Jadi “jen” artinya adalah “perikemanusiaan”.

e. Ajaran tentang “Sjiau”.
Kata “sjiau” menurut para sosiolog Tiongkok, diartikan sebagai “pengluasan kekuasaan ayah”. Perkembangan selanjutnya, tidak saja hanya ayah, namun juga ibu, shingga seseorang harus memperlihatkan “sjiau” nya. Lambat-laun “sjiau” juga berarti “penghormatan kepada orang-orang tua dari jaman purbakala, tunduk kepada yang berkuasa, tunduk kepada golongan di bawah pimpinan orang yang lebih tua. Akhirnya, “sjiau” sebagai dasar sistem kekeluargaan di Tiongkok berupa pendidikan untuk tunduk kepada golongan terdahulu dan mengandung nilai etis yang tinggi, yaitu: perasaan terikat kepada orang-orang yang menurunkan. Ajaran tentang “Sjiau” ini oleh Konfusius tidak ditujukan pada rakyat jelata, melainkan kepada golongan yang memerintah. Jadi yang dibayangkan oleh Konfusius adalah sebagai sesuatu yang mendekati kesempurnaan ialah Raja, dan disebut “Tsuuntze”. Kata “Tsuuntze” oleh sosiolog Inggris James Legge diartikan sebagai “superiorman”, lebih tepat diterjemahkan “bangsawan sesungguhnya atau bangsawan”. Perkembangan selanjutnya Konfusius mengatakan bahwa istilah “Tsuuntze” lalu berubah arti menjadi: orang yang baik budinya, orang yang susila. Karena dari padanya memancarkan sinar semacam pengaruh yang dapat disamakan dengan Ruh Raja sendiri berupa: tauladan baik yang tidak dapat ditentang.

2.Tokoh Aliran Konfusianisme yang lain, misalnya:

2. Mensius
a. Riwayat Hidupnya.
Mensius adalah murid dari Konfusius, dan masih keluarga bangsawan Dinasti Chou. Tanggal kelahiran dan kematiannya tidak diketahui secara pasti, namun diperkirakan hidup antara tahun 372 s/d tahun 289 Seb. Masehi di negara Lu dan tinggal berdekatan dengan Konfusius. Jiika dilihat masa hidupnya, maka ia sejaman dengan filsuf dari Yunani, seperti: Plato.
Meskipun Mensius lahir dari keluarga bangsawan, namun pada saat itu kurang begitu di hormati, karena saat itu di Tiongkok keluarga bangsawan sedang mengalami kemerosotan, sebagai akibat dari adanya peperangan yang terus menerus, sehingga timbul kekacauan di mana-mana. 0leh sebab itu, Mensius berusaha mengatasi kekacauan-kekacauan itu sebagai seorang filsuf, yaitu dengan idea-idea kefilsafatannya.  Mensius dalam mengajarkan idea-idea kefilsafatannya dengan jalan mengembara ke berbagai daerah/ negara, seperti: Liang, Chi, Chou, dan kadang kadang kembali ke Lu.Pada waktu Mensius mulai kegiatannya sebagai filsuf, sudah ada dua aliran yang kuat di samping aliran Konfusianisme.
Kedua aliran dimaksud adalah aliran yang didirikan oleh:
1). Yang Chu.
2). Mo Tzu.

Ad. 1). Aliran yang didirikan oleh Yang Chu mengajarkan, bahwa setiap orang harus hidup untuk dirinya sendiri, jangan memikirkan orang lain.
Ad. 2). Aliran yang didirikan oleh Mo Tzu mengajarkan, bahwa semua orang di dunia harus saling mengasihi.
Tetapi, meskipun sudah ada dua aliran yang besar dan kuat, Mensius tidak terpengaruh, sebab menurut Mensius kedua aliran tersebut terlalu ektrim dan mengabaikan kasih terhadap orang tua.
Mensius dengan ajaran kefilsafatannya, berusaha menjembatani pandangan paham Konfusianisme dengan pandangan paham Taoisme. Hal ini dapat dipahami, yaitu bahwa Mensius mengajarkan semedi yang juga menjadi ajaran pokok dari paham Taoisme.

b. Karya Mensius.
Karya Mensius ditulis dalam sebuah buku yang ditulis dia sendiri dan juga oleh murid muridnya. Buku dimaksud diberi judul “Mensius”, yang merupakan buku tebal terdiri dari tujuh (7) bagian, yang memuat 261 bab. Buku yang berjudul “Mensius”, memperlihatkan bahwa Mensius adalah: seorang filsuf, seorang psikolog, seorang politikus, dan seorang moralis. Mensius dikatakan sebagai seorang filsuf, sebab ajaran kefisafatannya tampak sifatnya yang idealistis, sehingga dapat diperbandingkan dengan ajaran Palto dari Yunani. Mensius dikatakan sebagai seorang psikolog, yaitu tampak bahwa ia mempunyai pandangan/ teori jiwa manusia, terutama tentang emosi. Mensius dikatakan sebagai seorang politikus, sebab ia mempunyai sistem tersendiri dalam mengatur kehidupan masyarakat, dan sistemnya itu pandangannya konkrit untuk menyelenggarakan kehidupan negara. Mensius dikatakan sebagai seorang moralis, tampak dalam usahanya agar keadaan di Tiongkok aman, damai, dan rakyat hidup tenang tanpa gelisah karena ada peperangan

c. Metode Ajaran Mensius
Metode yang dipakainya berbeda dengan metode mengajar yang digunakan oleh Konfusius.  Sebab Konfusius memakai metode diskusi yang menghidupkan sistem tanya jawab, sehingga metode Konfusius lalu diberi nama dengan istilah: “intellectual democracy”. Mensius dalam mengembangkan ide kefilsafatannya pada para muridnya memakai sistem indoktrinasi yang ketat. Artinya, bahwa para murid harus menerima yang diajarkan oleh Mensius. Oleh sebab itu metode mengajar Mensius disebut dengan istilah: “Intellectual authority”.Tetapi Mensius ada ketidak konsekwennannya, yaitu:  Pada waktu tertentu Mensius mengajarkan hal berbeda dengan yang pernah ia ajarkan, sehingga muridnya mengkritik, namun jawab Mensius, yaitu: “itu kan jaman dahulu, jaman sekarang lain”. Sikap Mensius yang autoriter itu memang dapat dimengerti, sebab waktu Mensius mulai mengembangkan ajarannya itu sudah banyak pesaingnya, sehingga ia segan mengaku salah demi gengsinya.  Mensius kecuali mempunyai metode mengajar yang berbeda dengan tokoh lain, ia juga selalu mendasarkan diri pada ucapan-ucapan kaisar purbakala. Kaisar purbakala yang ucapannya selalu dipakai oleh Mensius, yaitu:
1). Kaisar Yao
2). Kaisar Shun
Lain halnya dengan Konfusius yang dalam memecahkan persoalan memakai penyelidikan yang kritis. Oleh sebab itu metode mengajar yang digunakan oleh Mensius lebih mudah dibanding dengan cara mengajar secara diskusi dan penyelidikan dengan kritis.

d. Pokok-pokok Ajaran Mensius
Pokok-pokok ajaran Mensius ditulis bersama murid-muridnya dalam sebiah buku berudul: “Mensius”. Ajarannya bersifat idealistis, artinya bahwa ia ingin mewujudkan cita-cita dan ingin merealisir tujuannya dengan konsepsi pemikiran yang jelas. Gagasan-gagasan Mensius tampaknya memang cukup relevant dengan kondisi masyarakat waktuitu, dan mengandung nilai-nilai positif yang mereka perlukan. Oleh sebab itu ajaran-ajaran Mensius mendapat tempat tersendiri dalam pemikiran kefilsafatn Tiongkok. Konsep pemikiran Mensius, juga merupakan penegsan dari konsep pemikiran filosofis aliran sebelumnya.  Hal itu bisa dilihat, bila Konfusius tidak menegaskan bahwa sifat dasar itu baik atau jahat, sebaliknya Mensius dengan tegas mengatakan bahwa sifat dasar manusia adalah baik. Jadi, prinsip konsepsi filosofis dari Mensius mempunyai pandangan bahwa setiap manusia yang ada di dunia mempunyai sifat dasar yang baik. Dengan landasan prinsip ajarannya itu, Mensius ingin mengembangkan ajaran etikanya, supaya kebaikan-kebaikan itu hidup di dalam masyarakat. Oleh sebab itulah Mensius lalu mendapat julukan sebagai seorang “moralis”.  Ia juga mengatakan bahwa setiap orang dapat mengembangkan dan mengarahkan sifat dasarnya. Sifat dasar itu jangan dibiarkan berkembang tanpa suatu pemikiran yang terarah. Sebab bila dibiarkan, sifat dasar yang baik iti akan mudah berjalan ke hal yang baik atau hal yang jahat. Hal ini dapat diibaratkan dengan air yang mengalir ke bawah atau ke atas.

e. Ajaran tentang sifat dasar manusia
Sifat dasar manusia yang baik, dapat diamati bahwa secara realitas, semua manusia tidak tega melihat penderitaan orang lain. Karena hal seperti itulah Mensius mulai berpikir lebih dalam sampai ke dasar perasaan jiwa manusia, sehingga ia berpandangan bahwa sifat dasar manusia adalah baik. Mensius berkata bahwa setiap manusia mempunyai perasaan sama, yaitu kesamaan perasaan dalam realitas kehidupan dan perasaan itu menghasilkan kebajikan. Perasaan perasaan yang dapat menimbulkan suatu kebajikan yang dimiliki manusia, yaitu:
a. Perasaan tidak tega melihat penderitaan orang lain, dan perasaan ini disebut perasaan mengasihani. Perasaan mengasihani merupakan suatu permulaan dari cinta (jen).
b. Perasaan malu dan tidak suka, perasaan malu dan tidak suka merupakan permulaan dari kebenaran (i).
c. Setiap manusia juga memiliki perasaan rendah hati dan ramah. Perasaan redah hati dan ramah merupakan permulaan dari sopan santun (li).
d. Setiap manusia memiliki  perasaan menolak dan menerima. Perasaan menolak dan menerima merupakan permulaan dari kebijaksanaan (Chih)
Dengan demikian, setiap manusia mempunyai perasaan perasaan dasar dalam jiwanya yang secara potensial dapat menghasilkan kebajikan. Kebajikan-kebajikan itu konkritnya akan menghasilkan perbuatan-perbuatan yang dinilai oleh manusia sebagai perbuatan baik.  Selama manusia mempunyai perasaan perasaan yang dapat menghasilkan kebajikan, biarkanlah perasaan perasaan itu berkembang. Jadi, perasaan perasaan yang dapat menimbulkan kebajikan kebajikan tiu, oleh Mensius disebut dengan istilah:
a. Jen artinya cinta.
b. I artinya kebenaran
c. Li artinta sopan santun
d. Chih artinya kebijaksanaan
Olleh karena kebajikan adalah hal yang baik, dan kebajikan terkandung dalam diri manusia, maka Mensius mengatakan bahwa sifat dasar manusia adalah “baik” Ilustrasi sebagai bukti bahwa sifat dasar manusia adalah baik, Mensius mengatakan, yaitu:
Bila seorang dewasa tiba-tiba melihat anak kecil menyeberang jalan raya yang ramai, maka mereka merasa ngeri, dan segera menolong untuk menyelamatkan dari bahaya, dan mereka tidak akan melihat anak siapa dan apakah ada imbalan atau tidak, meraka tidak memperhitungkan hal itu. Yang penting anak tersebut selamat dari maut. Jadi, mereka berbuat bukan karena imbalan atau pujian orang lain, melainkan berbuat agar tidak terjadi maut dan menyehkan. Itulah sebagai bukti bahwa sifat dasar manusia pada dasarnya baik .
Selanjutnya Mensius berkata, bahwa manusia dalam mengembangkan potensi potensi dasar yang dapat melahirkan kebajikan itu berbeda-beda. Ada orang yang potensi dasarnya berkembang dua kali atau lebih dari orang lain, ada pula yang sampai tak terhingga, ada pula yang potensi dasarnya itu berkembang sangat sedikit. Tetapi yang jelas tak seorang pun yang dapat mencapai kesempurnaannya, sebab di dunia ini ada keterbatasan bagi manusia. Yang penting setiap manusia harus mengembangkan potensi potensi dasar yang dapat melahirkan kebjikan itu semaksimal mungkin, kata Mensius.  
Berikut, Mensius berkata, bahwa bila dikemudian hari ada manusia yang sifat dasarnya menjadi jahat, Kata Mensius, karena oleh pendidikan dan pengaruh lingkungan yang tidak baik. Missalnya, seorang anak yang tadinya mempunyai sifat dasar baik, namun dibesarkan di kalangan penjahat dan pencuri, maka akhirnya anak itu juga akan memiliki sifat jahat. Sebagai contoh konkrit, Mensius menggunakan benih gandum, semua sama baiknya, kemudian ditaburkan. Dalam penaburan benih gandum itu, ada yang jatuh di tempat subur, ada yang di tanah tandus, dan ada di atas batu.  
Jadi, bila ada seseorang yang tidak baik, maka ketidak baikannya itu bukan dikarenakan sifat dasarnya. Keburukan orang itu, karena perasaan perasaan yang dapat menimbulkan empat kebajikan tersebut di atas, tidak dikembangkan, bahkan ditekan dan dimusnahkan.
Berikut ada percakapan antara Mensius dan Kao Tzu yang mengarah pada kesimpulan penapat tentang sifat dasar manusia.
Adapun percakapannya adalah sebagai berikut:
Kao Tzu said, “Man’s nature is like whirling water, If a breach in the pool is made to the east it will flow to the east. If a breach is made to the west it will flow to the west. Man’s nature is indifferent to good and evil, just as water is indifferent to east and west”.
Mensius said, “Water indeed, is indifferent to the east and west, but is it indifferent to high and low ? Man’s nature is naturally good just as water naturelly flows downward. There is no man without this good nature: neither is there water that does not flow downward. Now you can strike water and cause it to splash up ward over your forehead, and by damming and leadng it, you can force it uphill. Is this the nature of water ? It is the forced circumstance that makes it do so. Man can be made to do evil, for this nature can be treated in the same way” (Chan Wing-Tsit, 1969” 52).
Dari pembicaraan Mensius dan Kao Tzu itu dapat disimpulkan, sbb. :
a). Menurut Mensius, bahwa sifat dasar manusia adalah baik, seperti air yang secara alamiah mengalir ke bagian yang lebih rendah. Sedang kejahatannya karena pengaruh yang menyalahi sifat dasar tersebut, seperti air yang dibuat bendungan atau ditepuk sehingga mengenai dahi.
b). Menurut Kao Tzu, bahwa sifat dasar manusia akan dapat menjadi baik atau jahat, seperti air yang dapat dialirkan ke Timur atau ke Barat
Menurut Mensius tentang pendapatnya bahwa sifat dasar manusia adalah baik, akhirnya dapat menyimpulkan, yaitu:
1). Bahwa ia (manusia) memilki “suatu pengetahuan pembawaan” (the innate knowledge) akan hal-hal yang baik dan “kepandaian pembawaan” (innate ability) untuk mengerjakan yang baik.
2). Bahwa jika seorang “mengembangkan pikirannya untuk sesuatu yang paling baik”, ia (manusia) dapat “melayani sorga” (serve Heaven) dan “memenuhi nasibnya” (fulfill his destiny).
3). Bahwa kejahatan manusia itu tidak dilahirkan dari dalam, namun disebabkan kegagalan-kegagalan dan ketidak mampuannya sendiri dalam menghindari pengaruh dari luar yang jahat.
4). Bahwa usaha yang sungguh-sungguh harus dibuat untuk mendapatkan kodrat asli manusia itu sendiri.
5). Bahwa belajar itu tidak lain adalah untuk mencari pikiran yang hilang.

C. Penutup

            Selama alam dirasa sebagai sesuatu yang berbeda dari manusia, sebagai hal yang melulu brutal, alam demikian bukan alam dalam pandangan Jen. Alam justru menjadi bagian dari ada manusia bila dikenal sebagai apa adanya. Manusia dalam alam dan alam ada dalam manusia. Di sini dinyatakan bahwa bukan hanya saling ambil bagian di dalamnya tetapi adalah kesamaan dan sekaligus perbedaan dengan alam. Kesamaan itu dasariah tetapi perbedaannya pun juga dasariah. Saya adalah kamu tetapi saya pun adalah saya sendiri. Saya yang terlepas dari kesatuan dengan alam itu bukan saya. Saya justru adalah saya karena kesatuan itu.

Daftar Pustaka
Ann Wanf Seng, 2007. Rahasia Bisnis Orang Cina. Jakarta: Diterjemahkan dari Rahasia Bisnis Orang Cina . Profesional Publising Sdn. Bhn.
Bagus Takwin, 2003. Filsafat Timur Sebuah Pengantar ke Pemikiran-Pemikran Timur. Yojyakarta: Jalasutra IKAPI.
Chi-Ping Yu, Filial Piety and Chinese Pastoral Care. Asia Journal of Theology IV:1 Apri1 1990, pp. 316-328.
De Barry, Theodore Wm., 1989, The Message of The Mind in Neo Confucianism. Columbia University Press. New York.
Eber, Irene (Ed), 1986, Confucianism. The Dynamics of Tradition. Macmillan Publishing Company. New York
Green, Ronald, M., 1988, Religion and Moral Reason. New Method For Comparative Study. Oxford University Press. New York.
Lasiyo, 1988, ‘Etika Menurut Ajaran Confucius.’ Basis. XXXVII, Juli, pp
249-255.
Legge, James 1861, The Chinese Classics .Vol 1, Oxford University Press. Oxford.
Lu, Martin, 1983, Confucianism Its Relevance To Modern Society. Federal Publications (S) Pte Ltd.
Singapore.
MATAKIN, 1984, “Tata Agama Dan Tata Lasksana Upacara Agama Khonghucu’, Sen Genta Suci Konfusiani. SAK TH XXVIII No-S Sala.
Rangkuti R.E., 1981, Kumpulan Lagu-lagu Daerah. Sinai Pengetahuan. Jakarta.
Smith, Huston, 1989, The Religions of Man. Harper & Row Publishers. New York.
Wen, Kwei Liao, 1933, The Individual and the Community. Kegan Paul. London.